Senin, 19 Mei 2008

Keretaku sayang.........keretaku malang..!!!

Pada hari kamis, 15 mei lalu, aku dan temanku ke solo, melakukan presentasi wisata outing pukul 09.30 WIB di SD Al Azhar 28 Solobaru. Agar lebih nyaman dalam hal waktu, dan kebetulan ada tumpangan yang searah, kita berangkat pukul 06.30 WIB. "Biar sarapannya lebih nyaman", begitu kata temanku yang memang asli solo. Keberangkatan pagi, dilalui dengan nyaman. Yah....bawa mobil sendiri. Selesai presentasi, pukul 12.00 kami langsung meluncur ke stasiun Balapan Solo. Pramex (Prambanan Express) menjadi alternatif transportasi umum paling murah dan nyaman hingga saat ini untuk tujuan Jogja - Solo. Dengan Rp. 7.000, perjalanan umumnya ditempuh dalam waktu 60 - 75 menit. tersedia tempat duduk memanjang di pinggir. Bagi yang tidak beruntung, DAOP VI Yogyakarta menyediakan tali gantung untuk berpegangan. fasilitas standar moda transportasi umum. Kelebihannya dibandingkan moda transportasi massal lainnya adalah kenyamanan dan kebersihan. Kita tidak akan menjumpai adanya pedagang asongan, pengamen, penyapu dan penawar jasa lainnya, layaknya kereta api kelas ekonomi. Walaupun harga tiketnya masih kelas ekonomi. Untuk jurusan Jogja - Solo kereta berwarna kuning, sedangkan untuk tujuan Jogja - Kutoarjo kereta berwarna putih. Setiap hari hilir mudik para mahasiswa, pekerja, pegawai kantor berangkat pagi dan sore hari kembali pulang. Jadwal yang disediakan juga cukup banyak, 4 kali dari jogja dan 4 kali dari solo. Bahkan moda transportasi bus hampir terpinggirkan oleh kereta Pramex ini.
Memasuki stasiun Balapan, kondisi cukup lengang, jumlah orang yang hendak pergi cukup sedikit. Bahkan bisa dikatakan sepi. Beberapa pedagang menyibukkan diri dengan membersihkan lapak dagangan mereka.

Nanti bersambung lagi.......
lha ada pekerjaan menumpuk je......

Kami bergegas naik begitu kereta datang. Alangkah terkejutnya kami setelah melewati sebagian gerbong yang "kosong melompong", padahal pada gerbong lain penumpang sampai berdesakan di dalamnya, bahkan untuk sekedar berdiri. Karena dikejar tenggat waktu dan pekerjaan, kamipun nekad memasuki gerbong yang penuh sesak.

setelah sekian lama, saya berhasil menyambung tulisan saya lagi

Di dalam gerbong, seperti yang lain, tangan kami dengan lincah mencari pegangan untuk sekedar dapat berdiri tegap. Sementara tangan satunya tetap waspada menjaga barang bawaan. Maklumlah, sudah menjadi rahasia umum, banyak yang memanfaatkan kondisi ini untuk mengambil barang yang bukan haknya. Tapi untunglah kebiasaanku untuk menyimpan barang bawaan dalam tas, dan tak menyimpan uang dalam dompet, sedikit banyak mengurangi resiko barang berpindah tangan dengan halus.
Pandangan kami beralih ke belakang, batas gerbong. Dari tempat kami berdiri, terlihat samar-samar dari balik kaca kondisi gerbong sebelah yang masih sangat longgar. Tanpa sarana berpegangan, orang tidak melirik area batas gerbong, mungkin juga pertimbangan keamanan, sedikit terpeleset, bisa terjatuh atau terjepit diantara gerbong. Dengan sedikit perjuangan kami berhasil mencapai area "beresiko". "Daripada berdesakan", begitu kami pikir.

Sejenak pandangan kami layangkan ke gerbong sebelah. Terlihat beberapa anak kecil didampingi orang tua atau pengasuhnya, dapat duduk dengan lega. Tak satupun penumpang yang berdiri, kecuali yang sekedar meluruskan kaki. Walaupun gerbong "kosong", tak terlihat penumpang terlihat relaks, saling menyapa, bercanda. Satu sama lain saling diam. Saat ini banyak sekolah yang memanfaatkan wisata kereta Prambanan Ekspress, dengan menyewa beberapa gerbong untuk satu kali perjalanan pulang pergi. Peserta dikenai biaya saya, satu kali tiket. Dari kejauhan aku lihat temanku sedang berdiri di salah satu pintu gerbong. Aku angkat telepon untuk menghubunginya, berharap kami dapat tumpangan di gerbong mereka. "Hallo.... arah jam enam", kataku. Sejenak temanku bingung, hingga aku mengulangnya beberapa kali, sampai akhirnya dia menoleh. Ku lambaikan tangan ke arahnya. Beberapa saat kemudian dia menghampiriku dan membuka pintu pembatas gerbong.
"Rombongan Lifant", begitu katanya.
"Oooo....bisa ikut masuk nggak?", tanyaku.
"Masuk aja", sambil membuka lebar pintu.

Kami merasa beruntung dapat melakukan perjalanan kali ini tanpa berdesakan. Sambil duduk di dekat pintu gerbong, pembicaraan panjang lebar tentang sistem transportasi berkembang. Sesekali celetukan cabul keluar saat melihat pendamping siswa yang cukup "hot". Ah...dasar laki-laki. Seperti kucing, tak tahan melihat ikan asin lewat. Temanku juga bercerita tentang biaya untuk sekolah playgroup anaknya, salah satu peserta wisata, yang mencapai 400rb per bulan. Nilai yang membuatku terkaget-kaget, jumlah yang lebih besar dibandingkan yang dikeluarkan untuk ketiga anakku. Padahal anakku mencapai jenjang kelas 1 SD, TK kecil dan Playgroup.

Di beberapa stasiun kereta berhenti untuk menaikkan penumpang. Hal ini sekali lagi membuktikan carut marutnya sistem transportasi di Indonesia. Masinis maupun petugas di kereta tahu kalo gerbong untuk umum sudah penuh sesak, namun masih saja ticket dijual. Rasanya seperti memasukkan baju dalam tas, bukan kopor, main tekan dan asal bisa masuk semua. Pada kejadian kali ini, beberapa penumpang nekat masuk ke gerbong yang "disewa". Dua orang ibu-ibu dengan seorang gadis kecil, anaknya, dan seorang pemuda berambut gondrong yang memasang earphone sambil mendengarkan telinganya. Sesaat kemudia, beberapa perempuan panitia wisata Pramex, meminta mereka untuk keluar , kepada penumpang langsung maupun petugas polisi dan petugas KA yang mendampingi. percekcokanpun terjadi. awalnya dengan suara halus dan terkesan tenang. Namun karena "penumpang liar" itu tidak segera turun, dengan suara keras sambil menekan petugas pendamping, mereka justru terkesan bersikap kasar. Petugas pendamping menghadapi dilema. Disatu sisi mereka tidak tega melihat "penumpang liar" diusir, di sisi lain mereka menghadapi tanggung jawab yang dibebankan KaDAOP VI untuk "melindungi" gerbong dari penumpang liar. Dengan suara halus mereka meminta penumpang liar tersebut untuk turun. karena tidak ditanggapi, mereka akhirnya memilih diam.

Tak selesai disitu, panitia pendamping meminta nama, alamat dan nomor KTP penumpang yang mereka anggap liar dengan wajah bersungut. Tak lama kemudian, suasana kembali tenang, dan kereta melanjutkan perjalanan hingga stasiun Lempuyangan.

Selama perjalanan itu, pembicaraan kami masih seputar kejadian tersebut.

Ah...ternyata untuk menjadi kelompok "elit", kita justru mengeluarkan biaya lebih banyak. Tidak hanya biaya secara ekonomi, namun juga biaya sosial, etika, norma, tenaga, pikiran dan masih banyak lagi. Sungguh malangnya berada di masyarakat elit.

salam......
kill laizze faire

Senin, 24 Maret 2008

Mapagama Family Trip (Route I)





Awan di atas langit terlihat mulai terlihat gelap. Dari sisi timur, angin bergerak pelan membawa gumpalan uap air, semakin lama semakin berwarna hitam. Dedaunan pohon mangga di depan bengkel bergoyang, sepertinya akan terjadi hujan. Angin tidak terlalu besar, cukuplah menyegarkan udara yang mulai terasa gerah. Menyegarkan tanah yang sedari pagi terkena terik matahari.

"Karepku medun awan ya mergo ngenteni udan", kataku kepada wahju.
"Hooh, dilit neh paling udan", kata wahju.
(keinginanku arung jeram siang hari supaya pas dengan waktu hujan)
(Iya, sebentar lagi hujan)

Kami membicarakannya di depan bengkel sambil sesekali menengadahkan wajah ke atas, memeriksa keadaan. Hujan di Jogja seringkali terjadi dari siang sampai sore hari, terkadang hingga malam, sesekali. Harapanku, saat hujan turun debit air kali Kuning yang mengalir dari merapi hingga Bantul akan bertambah, biar lebih asyik, menurutku. Kami menyebut kali Kuning itu dengan nama sungai/kali Babarsari. Kebetulan sungai itu memang melewati wilayah Babarsari.

Aku, dua orang anakku, sidik, wahju dan agus sebagai dokumentator, sedang bersiap melakukan pengarungan kali Babarsari. Rute yang kami tempuh dari sebelah kantor pajak ringroad utara hingga kolam pemancingan Banyu Mili, berjarak sekitar 2 km. Dua buah inflatable kayak, single dan double, telah siap di atas mobil wahju. Empat buah pelampung, 2 dayung double blade dan 2 buah dayung biasa juga turut masuk ke bagian belakang mobil, bercampur dengan perkakas kerja milik wahju.

Perjalanan tidak segera dilakukan, menunggu api pembakaran sisa sampah yang mengecil. Sampah disamping bengkel menumpuk setelah "rongsokan" mobil lama terjual. Kebetulan ini menjadi kesempatan untuk mengurangi jumlah rumput yang mulai meninggi yang sebelumnya tertutup mobil yang sempat teronggok lebih dari 3 tahun. Sebagai penyulut, daun mangga kering dan ranting-ranting yang patah disiram dengan minyak tanah. Aku sendiri datang setelah tumpukan sampah itu menyalakan api. Asapnya mengepul tebal, putih, terbawa angin ke barat.

Arung jeram, kalau oleh dikatakan begitu, merupakan hobiku sejak lama. Dunia ini aku kenal sejak tahun 1998, sejak aku masuk jadi anggota Mapagama, sejak Gladimula (organisasi lain menyebutnya Diklatsar) bulan Februari 1998, sejak aku mengenal dunia petualangan, sejak andrenalin ini selalu memuncak, sejak imajinasiku menjadi petualang muncul, sejak umur 23 tahun. Ya, sejak itu.... sejak pertama kali mendayung di selokan Mataram dan sungai Progo. Dulu, dengan keterbatasan arus informasi yang ada, aku hanya mengenal pendakian gunung (mountaineering) dan panjat tebing (Rock Climbing). Namun sekarang, dengan arus informasi yang semakin canggih, berbagai macam petualangan baru muncul dan mulai digeluti serta digemari, macam sandboarding, snowboarding, bodyboarding, waterfall climbing, extreme kayaking, yang dulu notabene hanya milik beberapa orang di luar negri sana.

Hobi yang sempat aku geluti dengan serius, perlahan aku kenalkan kepada anakku. Anakku yang pertama, Arkan, tentu saja yang lebih dulu mengenal, sekitar tahun 2004 di sungai Elo, Magelang, waktu itu ia berumur 5 tahun. Menggunakan riverboat, pinjaman dari pihak Djarum Super kantor Yogyakarta, kami ber-enam termasuk istriku mencoba goyangan jeram sungai Elo. Kini, tiga orang anakku, laki-laki semua, arkan (7 tahun), rayhan (4,5 tahun) dan attar (3,5 tahun), kukenalkan dengan aktifitas yang dulu kulakukan hampir setiap hari sabtu - minggu. Sungai Babarsari tidak memungkinkan digunakannya riverboat, karena kedalaman airnya. Namun aku rasa cukup kalo hanya untuk mengenalkan kegiatan ini pada anak-anak. Disamping itu, keinginanku mengenalkan aktifitas ini ke anakku, aku mulai dari yang paling ringan, tingkat bahaya terendah.

Mobil bergerak perlahan, hanya berjalan sekitar 5 menit, mungkin kurang. Kebetulan jarak dari bengkel ke sungai babarsari memang dekat, hanya sekitar 200 meter. Kami semua turun. Kayak pertama kali di turunkan, berikut pelampung dan dayung. Untuk langsung menuju sungai dari bagian belakang mobil tidak memungkinkan, sangat curam dan tidak ada jalan menurun. Kami memutar ke kanan, menyusuri selokan kecil, berbelok ke kiri memasuki kebun yang langsung berhadapan dengan sungai. Beberapa aliran air kecil kami jumpai, bocoran dari selokan di atas. Aku sendiri membawa kayak single beserta pelampung, sidik dan agus memanggul kayak double. Wahju dibelakang, menuntun 2 anakku sambil mengapit dayung di tangan kanannya. Perahu aku turunkan langsung ke sungai dan kuikatkan tali anchor (tali penambat kayak) ke tonggak bambu di pinggir sungai. Kulihat bagian atas sungai. Arus air dipecah dua, masuk ke dalam terowongan besar. Dua buah terowongan yang merupakan "jembatan" ringroad. Air mengalir deras, di akhir terowongan air membentuk riak-riak kecil. "Bagian situ dalem, lebih dari sepinggang", begitu kata sidik. Aku bergegas naik ke atas menyusul wahju dan 2 anakku. Ternyata wahju telah sampai di ujung selokan, persis jalan setapak kecil yang menurun ke arah sungai. Aku lihat dia menggendong salah seorang anakku.

"Aku nggak bisa....", tiru wahju dengan rengekan rayhan.
"Ayo turun.....jalan aja, ayah gandeng", kataku.
"Tapi aku nggak bisa.....", rengek rayhan lagi.
"Hehehehe.....", kudengar senyuman wahju di belakang.

Kutuntun tangan rayhan menuruni jalan tanah berpasir ke bawah sambil memanggul dayung, arkan kubiarkan berjalan ke bawah sendiri.

to be continued.....
mau kerja...

lanjut maning......

"Aku rasah medun wae, lagi standby, keponakanku loro, meh di gawa neng rumah sakit", kata wahju.
"Kowe sisan wae gus ", pintaku, tapi agus menggeleng
"Aku tak moto wae ", katanya.
(Aku nggak usah ikut ngarung, sedang standby, keponakanku sakit, mau dibawa ke rumah sakit)
(kamu sekalian aja gus)
(Aku jadi tukang foto saja)

Aku dan rayhan menggunakan kayak single, sementara sidik dan arkan menggunakan yang double. Pertimbangan utamanya tentu saja ukuran berat badan. Arkan walaupun berumur 7 tahun namun berat badannya mencapai 40 kg. Padahal aku, ayahnya, hanya memiliki berat badan 55 kg, rayhan hanya sekitar 18 kg.

Entry point berupa penggabungan dua arus dari terowongan. Arus sungai berbelok ke kanan menjadi satu, bukan jeram menurutku, tapi cukuplah untuk pemanasan 2 anakku. Kalo dibilang jeram, mungkin hanya kelas 1 yang ingin naik ke kelas 2. Panjangnya hanya sekitar 30 meter. Sidik duduk di belakang memegang dayung double blade (dayung panjang yang memiliki dua buah blade/sirip), dan arkan di depan memegang dayung carlisle (merek dayung). Sebelum pengarungan sidik mengarahkan perahunya menyeberang sungai. Terlihat pelampung yang digunakan arkan kebesaran. Pelampung yang seharusnya digunakan orang dewasa. Terlihat dia agak kesulitan menundukkan kepalanya, dagunya terganjal bagian depan pelampung. Sementara itu rayhan kusuruh duduk didepan dengan posisi kaki terlipat ke belakang sambil berpegangan tali anchor. Mereka berdua, arkan dan rayhan, sangat antusias memulai pengarungan ini. "Ayo yah..!!!", kata rayhan segera setelah menaiki kayak. Ini adalah pengarungan keduanya setelah 3 minggu yang lalu kami melakukan pengarungan di sungai yang sama, dengan rute berbeda. Perahu pertama yang dinaiki sidik dan arkan masuk terlebih dahulu. V-Wave (lidah jeram) disebelah kiri, berbelok ke kanan, tercipta riak-riak kecil. Arkan berteriak kegirangan sambil terus mengayuhkan dayungnya. Perahu kedua yang berisi aku dan rayhan masuk menyusul dengan jalur yang sama, mulus, smooth. Arus sungai berbelok ke kiri lagi dengan riak-riak kecil. Kondisi jeram di bawah tidak terlihat karena sungai kembali berbelok ke kanan.

10 menit kemudian, melintang bambu yang diikat dengan kawat dan tonggak di tengah. Penduduk setempat menggunakan bambu sebagai sarana untuk mengalirkan air dari mata air yang lebih tinggi ke sawah mereka. Kebetulan sungai babarsari berada lebih rendah dibandingkan dengan sawah di daerah tersebut, kecuali dibagian bawah dimana ketinggian air dan sawahnya sama. Sawah di sekitar sungai babarsari sebenarnya merupakan badan sungai, dimana air yang mengalir terus-menerus berubah arah. Bagian sungai yang mengering dimanfaatkan oleh penduduk sekitar untuk bercocok tanam. Tidak hanya sawah, namun berbagai macam tanaman juga tumbuh, termasuk juga palawija. Disekitar jembatan babarsari malah dijumpai beberapa gubuk yang digunakan petani untuk menunggui pertanian dan perkebunan mereka. Resikonya, bila sungai banjir, pertanian mereka otomatis terendam, dan hal itu sering terjadi saat musim penghujan seperti sekarang. Untuk menghindarinya, kami merebahkan badan ke belakang. Tak lama kemudian, rintik hujan turun, gerimis.

Tak lebih dari setengah jam, kami sampai di jembatan babarsari. Jembatan yang sangat bersejarah, tidak hanya dalam sejarah perkembangan pertanian Yogyakarta, namun juga bagi kalangan pencinta alam di Yogyakarta. Bagi dunia pertanian, jembatan ini menjadi penghubung Selokan Mataram yang dibangun pada jaman Sri Sultan hamengkubuwono IX, jaman belanda dulu. Selokan Mataram yang berhulu di sungai Progo dan bermuara di sekitar kecamatan Brebah, menjadi sarana penting bagi pengairan pertanian di Yogyakarta. Bagi beberapa orang juga dimanfaatkan untuk perikanan. Namun seringnya penutupan saluran itu hingga kering menjadikan usaha perikanan tidak berjalan, berhenti sama sekali. Hal ini juga pengaruh dari surutnya debit air sungai Progo. Sementara di dunia kepencintaalaman, jembatan Babarsari dipakai untuk berlatih. Terdapat 2 buah jembatan penghubung. Sebelah selatan digunakan untuk menghubungkan jalan. Sisi kanan kiri tiang penyangga terdiri dari tonjolan batu pondasi setinggi ± 5 meter. Sisi-sisi inilah yang digunakan untuk berlatih panjat tebing. Tingkat kesulitannya bervariasi, dari intermediate hingga level advance. Sedangkan sebelah utara untuk menyambungkan selokan Mataram, namun juga berfungsi sebagai jembatan. Tinggi jembatan hingga mencapai sungai sekitar 25 meter. Ketinggian ini yang dimanfaatkan untuk berlatih tehnik SRT (single rope technique), tehnik penelusuran gua vertikal. Setiap hari sabtu dan minggu, tempat ini dipenuhi penggiat petualangan. Latihan rutin dan pelatihan antar organisasi pencinta alam. Termasuk Mapagama dalam hal ini juga menggunakannya.

Sebelum melewati jembatan Babarsari, jeram kelas 2 mengalir cukup panjang, lebih dari 50 meter. Air cukup dangkal, banyak Pillow (batuan yang tertutup air, sehingga hanya menyerupai gundukan) di depan sepanjang kiri, kanan dan tengah. Arus mengalir lurus. Di tengah jeram, sungai berbelok ke kanan, membentuk riam kecil, namun pillow dan stainer (rintangan yang bukan benda alami sungai, misalnya kayu) banyak dijumpai di tengahnya. Di akhir jeram, standing wave (komponen jeram menyerupai ombak) terbesar pecah menjadi 2, memecah mainstream ke kiri dan ke kanan. Salah ambil manuver, kayak bisa terjebak, wrap (perahu/kayak terjebak, tidak bisa bergerak). Kayak-ku, yang berubah menjadi leader, kudayung ke kiri dan ke kanan, sesekali blok (tehnik dayungan), untuk mengarahkan ksysk menghindari batuan.

"Yah...kita kan pernah ke sini", kata Rayhan memastikan.
"Iya, dulu waktu pertama kali kita arung jeram di sini", jawabku mengiyakan. "Pegangan yang kuat", lanjutku.
Yi.....haaaa.....", teriakku menyemangati Rayhan sesaat setelah kayak memasuki jeram.

Kayak masuk lurus, namun karena dangkalnya sungai, terkadang kami terjebak bebatuan di bawah, membuat kayak berubah arah. Segera aku mengarahkan kayak lagi. Memasuki bends (belokan sungai), perahu kumiringkan ke arah kanan dengan tetap mendayung blok, untuk menjaga arah kayak tetap diposisi 45 derajat. Sebelum kayak menabrak batu pinggir sungai dengan keras, aku melakukan dayungan kuat agar tetap dapat mengikuti mainstream (arus utama), mulus. Jarak antar batu dan pillow memang sangat dekat, hanya berjarak sekitar 2 buah kayak. Belum lagi kendali arah kayak smooth, di depan terdapat batu cukup besar di sebelah kanan yang memecah mainstream. Di bawahnya lagi, akhir jeram, mainstream menabrak batu tinggi. Dayung kanan aku ambil kuat, kayak sedikit bergeser ke kiri. Pandanganku terus melihat bawah, mengamati arah kayak dan arus sambil terus mengawasi posisi duduk Rayhan. Rasa khawatir menyergapku ketika menyadari kalau Rayhan dapat terjatuh. Segera aku koreksi lagi dengan dayung kiri, ujung kayak pun bergeser ke kanan, tetap dengan kewaspadaan. Kayak bergerak mulus keluar jeram. Rayhan berteriak kegirangan, "Waaaaa....". Kayak segera aku arahkan ke kiri untuk menepi. Kulihat Sidik sedikit mengalami kesulitan melewati jeram barusan. Ujung kayak menabrak beberapa batu, membuat arah kayak seperti bola pinball.
"Asyik yah......lagi ya", kata rayhan. Terlihat kegembiraan di wajah anakku, tidak sabar untuk segera melanjutkan pengarungan.
"Iya, tunggu temen ayah dulu", jawabku. "Nanti di bawah kita ngintir ya....?!!"
"Iya....iya....aku mau..!!", timpal Arkan. "Kalo libur panjang, arung jeram lagi ya...??!!", pinta Arkan tidak sabar.

Aku selalu mencoba membuat pendidikan alternatif untuk anakku, pelajaran yang tidak didapatkannya di sekolah. Tapi dasar darah petualanganku, seringkali saat libur beberapa hari, aku ajak mereka mengenal dunia yang hingga sekarang masih aku gemari, petualangan. Namun pastilah dengan porsi untuk anak-anakku. Pendidikan lingkungan !!! itu intinya. Aku coba kenalkan kepada mereka, tentang berbagai macam lingkungan yang ada disekitar kita. Pernah beberapa waktu lalu, saat liburan panjang sekolah, aku ajak keluargaku camping di hulu Kali Kuning, persisnya sedikit di atas dam Plunyon. Hanya 2 hari 1 malam, sabtu - minggu. Aku dan istriku mengenalkan sedikit pengetahuan yang kami miliki. Dari air, tanaman, habitat, ekologi, keanekaragaman hayati dan konservasi. Hubungan sebab akibat tindakan kita terhadap alam, lingkungan. Misi utamanya tentu saja mengajarkan kemandirian. Dengan hidup di alam bebas, mereka aku ajarkan untuk melakukan segala sesuatunya sendiri, tentu saja sesuai dengan kapasitas anak-anak. Dalam proses ini mereka dapat bermain di alam bebas dengan berbagai macam isinya. Sungai, batu, air, tanaman, udara, iklim, cuaca. Kebetulan Arkan cenderung mengidap asma, begitu vonis dokter. Jadi hitung - hitung sekaligus terapi untuk kesehatannya. Arung jeram bagi Arkan adalah yang ketiga kalinya, bagi Rayhan untuk kedua kalinya sedangkan Attar baru sekali. 3 minggu sebelumnya, aku mengajak mereka ke sini, arung jeram, namun dengan rute yang lebih pendek, hanya 200 meter ke atas jembatan Babarsari, bolak-balik, bergantian.

Kami berhenti sejenak, menunggu Agus dan Wahju datang untuk mengambil gambar. Tak lebih dari 10 menit mereka datang. Dari atas jembatan Agus segera mengarahkan kameranya ke kami. Jepret....jepret....jepret.... Wahju memberi isyarat untuk bergerak. Perahu ditarik sedikit ke atas. Ditempat kami berhenti tadi, jejeran batu melintang sepanjang badan sungai keeper hole (seluruh atau sebagian besar badan sungai terhalangi, menciptakan arus putar). Saat menyeret perahu, sendal jepit Sidik terlepas. Ditunggu beberapa saat, sendal yang dinanti belum juga muncul.

"Ngopo ? " tanyaku.
"Sandalku copot", kata Sidik. "Kok ora njedul-njedul yo....??? ".
Wis, ilang.... ", kataku. "Ayo medun (Ayo turun)".
Belum sempat perahu meluncur, sandal jepitnya terlihat mengambang.
"Lha kuwi..!!! ", kata Sidik
"Yo ayo dioyak..!!! ", timpalku kemudian
(ada apa ?)
(kok nggak segera muncul ke permukaan ya....???)
(sudahlah, hilang....)
(Lha itu..!!!)
(Ayo segera dikejar..!!!)

Sidik meluncur pertama melewati keeper hole, mulus. Beberapa meter ke bawah, persis di bawah jembatan, kayak menabrak pillow. Kayak miring ke kanan, hampir terbalik. Sejenak aku merasa khawatir kalau Arkan tercebur. Sungai memang tidak dalam, namun bisa dipastikan beberapa teguk air meluncur deras ke perutnya. Sidik segera turun untuk menjaga keseimbangan dan arah kayak sambil tertawa. Sendal yang dikejarnya, sejenak terlupakan. Aku mendahuluinya ke bawah, kayak langsung kuarahkan ke jeram berikutnya. Di depan sebuah pohon sukun di pinggir sungai roboh, melintang sepanjang badan sungai. Segera kayak kutarik ke pinggir. Rayhan aku suruh turun dari kayak.

Di bawah jembatan, sungai terpecah jadi 2. Sebelah kanan menjadi arus utama. Sebagian besar airnya mengalir ke situ. Di sebelah kiri jembatan, awalnya adalah tanggul sawah. Proses abrasi yang berlangsung lama menghancurkan tanggul dan menciptakan sungai kecil. Menerabas beberapa petak sawah yang dilewatinya. Karena sawah berada pada dataran dengan ketinggian sama, petak yang rusak menjadi sangat luas, terutama saat banjir.

"Kenapa berhenti ?" tanya Rayhan kepadaku
"Nungguin kakak sama oom sidik dulu", jawabku ringan.

Beberapa saat aku tunggu, kayak sidik tidak juga terlihat. Aku susuri sungai ke atas memastikan keadaan.
"Tunggu sini, jangan ke tengah, nanti bisa jatuh ke sungai", perintahku ke rayhan
"Ya..", jawab rayhan

Ternyata sidik masih sibuk mencari sandal yang tersangkut di tumpukan sampah.
Setelah didapatkan sandalnya, ia segera mengarahkan perahu ke bawah. Begitu terlihat olehku, sidik aku beri aba-aba untuk ke pinggir.

"Ono strainer....!!! wit sukun ambruk....!!! (ada strainer...!!! pohon sukun roboh...!!!)", teriakku sambil menunjuk pohon sukun di bawah. Setelah di pinggir, kayak kami angkat menuju samping pohon sukun. Sambil aku pegang, arkan aku suruh naik terlebih dahulu. Kayak aku dorong kuat melewati ranting pohon sukun, aku mengikutinya dari belakang. Sungai berbelok ke kiri, terlihat beberapa jeram di bawah menghilang dari pandangan di kelokan itu. Kayak aku dayung perlahan sambil terus melakukan scouting (pengamatan jeram dan penentuan manuver perahu).

nanti berlanjut lagi.....
mau pijet........

Selepas jembatan Babarsari, sesungguhnya jeram yang ada saling sambung menyambung, hanya ada beberapa eddies (arus tenang) relatif pendek. Tidak cukup besar memang bagi kami yang sering melakukan arung jeram. Namun bagi kedua anakku, pengarungan dan hempasan air di wajahnya cukup membuatnya gembira. Selepas strainer pohon sukun, sidik menepikan kayaknya ke pinggir kanan sungai. Dikejauhan terlihat end point pengarungan.

"Ayo yah, kakak di salip", pinta rayhan.
"Oke".
Begitu kami melewati kayak arkan dan sidik, rayhan tertawa, seolah-olah merasa menang karena berhasil mendahului kakaknya.
"Hei....kalian curang, hahahaha....", teriak arkan

Aku mendahuluinya. Sungai berbelok ke kiri menyisir tanggul sawah yang mulai ditumbuhi rumput dan beberapa tanaman kayu. Salah satunya pohon Lereside, begitu orang-orang di Purwokerto menyebutnya. Pohon yang beraroma tidak sedap, sejak kulit, kayu hingga daunnya. Beberapa ujung ranting tampak sudah terpotong, sepertinya dilakukan dengan sengaja menggunakan golok. Arus utama dan jeram melewati bawah pohon tersebut.

"Nanti kalok nglewati pohon itu, badannya dibungkukin ya..?!!", kataku kepada rayhan
"Ya...kayak tadi ya yah ?", tanya rayhan
"Kalo tadi badannya dijatuhin ke belakang, nanti badannya ditundukkin ke depan, ok ??!! aaaa......", perintahku lagi.

Belum sempat aku menutup pembicaraan, kayak sudah menerjang pohon Lereside.

"Nunduk ray....", perintahku ketika kami melewati bawah pohon tersebut.
Rayhan segera membungkukkan badannya ke depan tanpa berani melepas tali anchor. Sesaat kemudian dia tertawa. Kayak aku arahkan ke pinggir, sisi kiri sungai. Anchor ku ikatkan di tonggak bambu. Tak lama, sidik dan arkan menyusul. Di atas kulihat beberapa bagian terbuka seperti bagi kendaraan penambang pasir.

"Yo neng kene iki finishe (Ya di sini kita finish)", kata sidik.

Aku segera menoleh ke kanan dan kiri mengamati sekitar, barangkali menemukan wahju dan agus. Beberapa saat lewat, tak juga kulihat mereka.

"Kak, ayo ngintir…….", ajakku ke arkan.
"Ayo...", dengan riangnya ia menerima ajakanku sambil berlari. Badannya yang besar bergerak ke arahku. Kakinya yang besar memecah air yang dilewatinya. Aku sambut uluran tangannya sambil meraih ujung atas pelampungnya. Perlahan-lahan ia aku ajak ke bagian hulu. Sesekali ia terpeleset batu yang diinjaknya.

"Makanya ayah suruh kamu pake sepatu, untuk melindungi kaki saat di sungai".
"Iya, tapi kenapa ayah pake sendal ?" tanya arkan
"Tapi sandal ayah kan nggak mudah lepas, sandal gunung", jawabku.
Arkan terdiam mendengar penjelasanku. Tampaknya dia lebih tertarik membayangkan ajakan ngintir dariku.

"Badan direbahkan ke belakang, kaki ke depan diangkat ke atas, pandangan tetap ke depan. Kalo ada batu, kaki dipake buat menendang, ngerti ???
"Ngerti...!!!"
"Ayah duluan, entar kamu nyusul di belakang".

Badan kurebahkan ke belakang, kaki ke depan, memberi contoh kepada arkan.
"Ayo....!!!", ajakku

Selepas 20 meter, pantatku menabrak sesuatu, batu.
"Auw.....hahahaha.....". Beberapa saat kemudian arkan mengalami hal yang sama.
"Aow.....pantatku sakit", katanya. Dia berusaha berdiri dengan susah payah. Kuraih pelampung untuk membantunya berdiri.
"Kita coba lagi, ditempat yang lebih dalem", ajakku lagi.

Tak lama kemudian, wahju datang tergopoh-gopoh dari bagian bawah sungai.
"Finish-e neng ngisor meneh (Finishnya masih ke bawah lagi)", katanya dengan segera.

Kami segera bergegas ke kayak. Untuk pertama kalinya rayhan memegang dayung dan mengayunkannya di air. Awalnya ia terlihat keberatan dengan dayungnya, namun tanpa sedikitpun keluhan keluar dari mulutnya, dayungan itu berakhir hingga akhir pengarungan. Sesekali dayungnya bertabrakan dengan dayungku. Pastinya dayung itu terlalu panjang baginya, jarak kedua tangannya ketika memegang dayung hanya sekitar 20 cm dari T-Grip. Namun semangat yang muncul barangkali berpuluh-puluh meter. Sangat berbeda dengan kakaknya yang gendut, beberapa dayungan double blade-nya, terlalu banyak keluhan keluar. Tanganku pegel lah, capek lah, dayungnya berat lah, susah ndayung lah dan lah lah yang lain. Tapi itulah anak kecil, seringkali keluhan terlebih dulu keluar sebelum proses panjang berjalan. Anak-anak tetaplah anak-anak, dengan segala kekanakannya.

Ketegangan melewati beberapa strainer kayu maupun rerimbunan pohon pinggir sungai yang menutupi mainstream, menabrak batu, perahu yang berputar, aba-aba menyamakan irama dayungan, sudah cukup membuat mereka tertawa. Teriakan saat melewati jeram, ekspresi saat air menampar wajahnya, dayungan yang membawanya melewati jeram, cukuplah membuat mereka gembira. Ketegangan di wajahnya kala melihat buih air, ketakutan saat perahu mulai miring, rasa sakit saat tubuhnya terantuk batu, tak cukup membuat mereka kehilangan tawa. Itulah anak-anak, hanya ada kegembiraan dan tawa.

Yogyakarta, 25 Maret 2007.

Minggu, 16 Maret 2008

SERAGAM SMA

Kemarin malam, dalam perjalanan pulang ke kontrakan menggunakan mobil hasil meminjam bapakku, aku lihat penjual wedang ronde mendorong gerobaknya di tengah gerimis hujan. Memasuki gang demi gang, menawarkan wedangnya itu. Tidak banyak kata yang diucapkannya, layaknya penjual sate madura atau bakul sayur di Jakarte sane. Hanya sesekali dia mengetuk kentongannya. Warga perumahan di komplek rumahku sepertinya sudah hafal dengan nada dan irama kentongan si wedang ronde. Aku yakin, malam itu dia berharap, dagangannya segera habis. Lha hujan, mana udara di tempatku yang berada "agak tinggi" pastilah lebih dingin dibandingkan jantung kota Yogyakarta. Wedang ronde yang asalnya dari Wonosobo, mampu menghangatkan badan, terutama karena kandungan jahe di dalamnya. Rasanya manis, ditambah kacang tanah, kolang kaling dan gulungan terigu rebus. Kalo sedang berselera, kita bisa mencelupkan roti tawar ke dalam minuman, maka jadilah roti tawar manis dengan aroma jahe yang mblenyek dan nyemek-nyemek.
Pak ronde adalah tetangga desaku, jaraknya sekitar setengah kilometer. Pendidikan yang pernah diselesaikannya hanya sebatas sekolah dasar. Dia berasal dari keluarga kurang mampu secara ekonomi. "Nyambud gawe wae le, ngewangi bapak dadi tukang apa ngewangi mbokmu momong adikmu kae, bapak ra sanggup mbayari sekolahmu". Begitu kata ayahnya suatu saat ketika ia mengutarakan keinginan untuk melanjutkan sekolah. Sejak kecil ia memang hidup prihatin. Kadangkala ia harus membantu mencabut dan membersihkan rumput tetangga agar mendapatkan uang biaya sekolahnya.
Di seberang selatan jauh sana, berdiri sebuah warung mie jowo. Mbah Darmo nama pemiliknya. Letaknya jauh di "pedalaman" Mbantul sana. Jauh dari keramaian karena berada ditengah-tengah kampung 3 km dari pusat kota. setiap malam, berjejer berbagai macam mobil dipekarangan sebelah rumahnya yang sengaja disulap menjadi lahan parkir. Untuk mendapatkan sepiring mie, orang rela antri berjam-jam. Rasanya gurih, tapi ngak pakai penyedap buatan pabrik, begitu kata beberapa pelanggan. Usaha yang dijalaninya sekarang adalah warisan dari kedua orangtuanya yang dirintis sejak jaman belanda dulu, dan sempat melewati fase penjajahan Jepang. Kedua orangtunya mendapatkan ilmu memasak mie dari hasil bekerja dengan orang tionghoa. Saat mbah Darmo beranjak remaja, kedua orangtuanya berpesan, "Le, sesuk nek bapak ibu ora sangup masak, kowe sing neruske yo.... Rasah goleh gawean utawa usaha liyane, cukup iki wae". Amanat yang dijalaninya hingga sekarang ini.
Aku tanyakan kepada istriku, "Menurutmu, menjadi bakul ronde itu merupakan pilihan atau keterpaksaan ?".
Dengan segera dia langsung menjawab, "Ya pilihan lah !!!".
"Kenapa ?", tanyaku lagi.
"Semua orang punya jalan yang berbeda, dan setiap jalan yang diambil merupakan pilihan orang itu sendiri".
Jawaban yang singkat lugas, padat. Dalam pengertian yang lebih luas, bisa berarti banyak sekali. Aku terdiam sejenak sambil mencoba mengurai arti kalimat istriku.
"Trus, kalau mbah Darmo bakul mie jowo di mbantul sana, yang tempatnya mblusuk itu, dia menjalankan bisnisnya karena pilihan atau keterpaksaan ?" tanyaku lagi.
Sambil menarik nafas panjang di berkata, "Ya itu tadi ayah, semua orang bebas memilih, apapun pilihannya, tentu saja dengan segala konsekwensi dari pilihan tersebut".
Kelihatannya dia mulai kesal dengan pertanyaan yang menurutnya memiliki jawaban yang sama.
"Menurutku tidak persis seperti itu. Dia menjadi bakul wedang ronde mungkin karena itu satu diantara dua pilihan yang ada. Dan mbah Darmo itu mungkin juga karena kewajiban melestarikan kabudayan yang ditinggalkan nenek moyangnya, budaya masakan jowo".
Kemudian aku nyerocos panjang lebar.
"Pak ronde itu bisa jadi karena keterbatasan pendidikannya, dia tidak punya kacamata seperti kita ini, yang bisa jualan komputer, bisa beternak lele, bisa jualan alat laboratorium plus bahan kimia, bisa menjadi konsultan bidang kehutanan, bisa buka jasa tour operator dan masih banyak jenis usaha lainnya. Karena kita cukup edukatip, berpendidikan, punya uang, kenalan, wawasan, cukup punya bekal untuk membuat banyak pilihan. Lha tapi pak ronde itu, mungkin karena pendidikannya yang rendah, pilihan yang dia ciptakan dan pilihan yang hadir di kepalanya jadi sangat sedikit."
Sambil memutar stir mobil ke kanan memasuki jl lele 4, aku meneruskan kalimatku.
"Nah kalo bah Darmo itu, bisa jadi dia memilih jualan mie jowo karena itu warisan dari bapak ibunya. Dia memiliki kewajiban untuk meneruskan itu. Disamping juga mungkin karena atas kesadarannya dia merasa memiliki tanggung jawab untuk melestarikan masakan mie jowo yang sekarang mulai tergusur sama McDonald dan KFC itu. Dia merasa, kalau nggak ada yang meneruskan masakan ini, lalu siapa lagi ? Dan dia juga mendoktrin anaknya untuk berfikir dan melakukan hal yang sama. Apa itu masuk dalam kategori pilihan, menurutku tidak juga. Tapi apakah itu juga bentuk keterpaksaan ? menurutku juga kurang tepat. Jadi masih dalam kerangka pilihan yang berdasarkan keterpaksaan. Walaupun tentu bukan berarti kalao dia tidak melakukan itu maka akan mendapat dosa besar".
Tetanggaku ceritanya lain lagi. Mereka sepasang suami istri. Dulu sang suami adalah seorang guru sekolah dasar lulusan D2 sekolah guru. Sang suami setiap pagi menyalakan motor honda tuanya untuk berangkat melaksanakan kewajiban mengajar. Sementara istrinya membuka warung kecil di pinggir jalan menggunakan gerobak dorong yang buka dari pukul 10 pagi hingga pukul 7 malam. Penghasilan yang didapat sekitar 15 - 20 ribu rupiah setiap hari. Hal itu dilakukannya selama hampir 10 tahun, saat anak-anaknya masih menginjak sekolah dasar. Irama hidup di kota besar menuntut biaya yang semakin tinggi, termasuk biaya sekolah bagi kedua anaknya, laki-laki dan perempuan. Tidak hanya kebutuhan sekolah anaknya yang dia pikirkan, dia pun ingin seperti tetangga yang lain, punya motor bagus, rumah bagus dan tentu saja mobil bagus. Apalagi seiring perjalanan waktu, warung yang dirintis istrinya semakin maju. Merasa gaji menjadi guru tidak mencukupi untuk meraih segala keinginannya, dia memutuskan keluar, pensiun dini. Hasil pesangon dari dinas pendidikan dan kebudayaan, dimasukkan sebagai tambahan modal kios kecil milik istrinya. Perhitungannya, kalau modal ditambah dan masa kerja ditambah, penghasilan dari warung bisa semakin besar, bisa jadi 50 - 100 ribu per hari. Belum lagi kebebasan menentukan waktu kerja.
Warung kecil yang awalnya hanya berupa gerobak dorong berukuran 1,5 x 2,5 meter dipercantik, dicat ulang. Barang dagangan yang awalnya masih sangat terbatas, rokok, kopi, teh, susu sachet, shampo dan dagangan kecil lainnya yang hanya mengisi sepersepuluh dari luas kiosnya, kini bertambah. Kini warung itu dibukanya dari pukul 9 pagi hingga pukul4 dinihari, biasanya kalau sudah mendengar suara adzan subuh. Pagi hingga sore hari, sang istri yang menjaga. Malam hingga dinihari gantian sang suami yang menunggui warungnya. Didorongnya gerobak dari kayu dan seng itu keluar masuk kampung. Suara yang dihasilkan cukup keras, kadang-kadang mampu membangunkan penghuni rumah yang tinggal di pinggir jalan kampungku.
Semakin lama, barang dagangannya semakin banyak. Pernah beberapa waktu dia ikut menjual minuman beralkohol, tapi hanya dijalani beberapa tahun. Dengan kesadaranya dia meninggalkan dagangan itu. Takut berurusan dengan polisi dan Tuhan, katanya. Beberapa jenis makanan ringan sekarang ikut mengisi gerobaknya, sebagian besar merupakan titipan dari si pembuat langsung, konsinyasi. Dari kacang bawang, peyek, telor asin, kacang kulit, donat hingga kripik. Bahkan sekarang mobil coca cola secara rutin mengisi 4 krat minuman setiap minggunya. Kini ruangan yang tersisa dari gerobak dorongnya hanya untuk sebuah kursi plastik dan sebuah lobang kecil untuk menerima atau memberikan kembalian uang, tak ada lagi ruang tersisa. Gerobak kiosnya pun tidak lagi didorong keluar masuk kampung, tapi sudah semi permanen di trotoar jalan seberang rumah orangtuaku.
Dalam pengertianku, pak gerobak warung kelontong membuat sebuah pilihan, bukan lagi keterpaksaan. Karena dia memutuskannya berdasarkan perhitungan keuangan, juga terkait dengan latar belakang pendidikan yang dia miliki. "Alloh tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang merubahnya", begitu firman-Nya. Dalam konteks ini pak warung gerobak kelontong mencoba merubah nasib perekonomiannya dengan berganti profesi dari guru menjadi wirausahawan dari sekian banyak pilihan yang "mampir" kepadanya. Berbeda dengan pak ronde, pilihan yang datang kepadanya sangat sedikit. Masih ditambah tingkat pendidikan yang didapatkannya dan juga sistem pendidikan keluarga yang didominasi ayahnya membuat "pergerakan" otaknya semakin lambat. Sementara mbah mie jowo, pilihan dan latar belakang usahanya sangat berbeda. Awalnya dia menjalani karena itu merupakan amanat dari kedua orang tuanya (sebuah keterpaksaan), namun seiring waktu, seiring kemajuan usahanya, ia semakin mantap menjalani usahanya. Tak lupa ia pun berpesan hal yang sama kepada ketiga anaknya, 2 orang laki-laki dan seorang perempuan.
Kadang cara menjalani hidup tidak lagi antara hitam dan putih, tentang sebuah keberpihakan, tentang sebuah pilihan, tentang hitam dan putih. Namun seringkali tidak hitam, juga tidak putih, malah bisa juga campuran hitam dan putih, abu-abu. Namun apakah tidak hitam dan juga tidak putih itu menjadi sebuah pilihan atau keterpaksaan ? Saya kira juga tidak. Seringkali pilihan itu adalah sebuah keterpaksaan, karena tidak ada pilihan lain (mbah nie jowo). Atau karena pilihan itu tidak banyak (pak ronde). Namun juga keterpaksaan itu juga akhirnya menjadi sebuah pilihan (mbah mie jowo lagi). Termasuk juga pak warung gerobak kelontong, karena ia "dipaksa" untuk sejajar dengan lingkunganya maka "terpaksa" ia mengganti profesi yang mulia itu menjadi wirausahawan. Abu-abu itu kan seragam anak SMA(U) to....???

Bagaimana menurut anda .....????

Sabtu, 15 Maret 2008

HWARAKADAH

Trus ngapa kiye kalo malem minggu ra ana gaweyan. Ha apa nggak mending di rumah bercengkrama dengan anak-anak dan istri tercinta. Mau jalan-jalan ya males, lha wong ya njuk ngapa ? Nek cuman ngabisin wektu.....
Jadi inget wektu mangsih dadi mahasiswa tempo doeloe. Kalok malem minggu pura-pura sibuk, tidak nongkrong di gelanggang UGM sono itu. Biyar tidak ketauan kalok njomblo, mendingan mbikin kegiatan, seringnya arung jeram, progo, elo, atao serayu. Nyamannya elo, asyiknya serayu dan hebatnya progo. Tapi serayu masih yang paling favorit. Jeramnya variatif, dari besar, bentukan, kelas, termasuk panjangnya, 23km. Bisa diarungi sekitar 5 jam, lumayan ngos-ngosan. Yang paling bagus menurutku jeram gate dan cawet. Jeram gate seperti gawang dan kiper di tengahnya. Dua buah batu besar membentuk "cagak" gawang. sementara arus utama masuk di tengah-tengahnya, dan gooolllll !!!! Pas ukuran perahu. Meleset sedikit, gol yang ditunggu-tunggu bakalan tidak mulus masuk ke gawang. Melintir, berputar, njedit dan byur.... semua pendayung bakalan kecebur. Ukuran "gawangnya" memang dibuat sangat pas dengan lebar perahu. Setelah itu, yang kecebur masuk ke hole, berputar-putar sebentar, kalok lancar ya kebawa arus ke bawah. Tapi jalan keselamatan masih panjang, sekitar 150 meter di bawah. Jajaran jeram kelas III masih merupakan urutan dari jeram Gate, yang merupakan "pintu masuk jeram panjang itu. Tak ada yang lebih mengasyikkan dari itu.
Turun lebih ke bawah, masih melewati beberapa jeram, kelas III-an. Pada saat hujan, bisa mencapai kelas IV. Panjang jeram di sungai serayu mulai dari 50 meter sampai 150-an meter. Varian kelas jeram dan bentukannya sangat variatif. Banyak orang yang menyebut, the most exciting riverwild in Java. Yang biasa diarungi sekitar 23km, dari jembatan Mbliming sampai jembatan Selomerto apa Selokromo yak......? Ndlogok....lali to. Namun kalo mau ambil lebih ke atas dan selesai lebih ke bawah panjang sungai yang layak diarungi bisa 1,5 kali lipat, sekitar 35km. Merupakan batas kabupaten Banjarnegara dengan kabupaten Wonosobo. Berada ditengah sawah dan perkebunan, namun banyak penduduk yang membangun rumah atau tempat produksinya dipinggir sungai. Mungkin mereka berfikir kemudahan membuang limbah. Ah.....serayu-ku.
Sungai berbelok ke kanan, disebelah kanan terdapat batu besar, dihantam mainstream dan membelokkannya ke kiri, setelah itu edies. Tampak dari atas, arus utama menghantam tebing tinggi sebelah kiri dan kembali membelokkan arus ke kanan. Sebelum itu, jeram sudah terbentuk, entry point. Standing wave, cukup tinggi, hampir membentuk haystack pada musim kering, saat musim hujan tak ada lagi standing wave, semua haystack. Namun karena hasil tabrakan tebing, arus balik yang terbentuk berupa beberapa pusaran yang langsung tertabrak arus utama. Hal ini yang membuat bentukan jeramnya menjadi sangat "ruwet". Panjang jeram lebih dari 50 meter. Di ujung jeram sebelah kiri, air terjun dari selokan di atas. Itulah jeram cawet, mengapa disebut demikian ? Dari arah arus yang berbelok, kemudian masuk arus yang "ruwet", potensi peserta jatuh tidak begitu tinggi kecuali memang ceroboh, namun jikalau tidak beruntung dan terjatuh, bagi yang menggunakan celana kolor dan celana dalam aliyas cawet tanpa diikat sabuk, dijamin keduanya akan lepas sebelum sadar sudah tidak menggunakannya. Itulah mengapa dinamakan jeram cawet. Kebetulan dulu pernah ada yang mengalami hal tersebut. Ketika disuruh naik ke perahu, di hanya menggelengkan kepala. Dan saat ditanyakan beberapa kali dia mengatakan dengan jujur dan tersipu-sipu kalau bagian bawah tubuhnya tidak lagi ditutupi apapun, telanjang. Beberapa kawan lain menyebutnya jeram pak ndut, karena kalo masuk jeram badan digoyang dangdut, kiri kanan, atas bawah, terutama bagian pinggang ples pantat. Itulah salah satu exciting side dari sekiyan banyak jeram lain. Yang paling terkenal tentu saja jeram Mbrayut di sungai ini, besar, butuh manuver bagus dan harus pas.....hhhhh.
Serayu....oh serayu...... bajigur sumur......dadi pengen ng-orad meneh...!!!! is there anybody need help....??!!!
Hwarakadah....

Jumat, 14 Maret 2008

Gusti Alloh Tansah Adil

Kemarin mbaca http://news.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/03/13/1/91404, 3 milyar penduduk dunia miskin akibat korupsi. byuh....byuh....byuh..... eudan tenin, luar biasa, mbikin gembrobyos, berkeringat. Lha katanya penduduk dunia itu cuman ada 5 milyar. Halah.....brarti lebih dari separuh masyarakat miskin, dan akibat korupsi...???!!!! Wes marahi kenthir otak ini.
Lha hari ini, 14 maret 2008, sewaktu saya menunaikan kewajiban sholat Jum'at di masjid belakang rumah itu. Saya melihat laki-laki yang pekerjaan sehari-harinya cumak ngumpulin sampah di kampung, dengan gerobak dorong, eh....ditarik ding dengan pundaknya. Beliaunya memasukkan Rp. 1.000 di dalem kotak amal jariyah itu. Welah......luwar biasa juga to itu ?
Lha diya itu penghasilannya brapa toh sehari ?? Paling-paling 5000 sampe 10.000 rupiyah, lha wong ngumpulin sampahnya cumak sak-erte. lha kalok ngumpulin sampahnya nyampe sak kabupaten atao sak propinsi, ha mungkin juga beliaunya bisa ngumpulin satu sape duwa juta per hari. Brarti beliaunya itu kan menyisihkan seperlima atao 10% dari penghasilannya. Jauh melebihi yang disyaratkan oleh agamanya yang 2,5% dari penghasilannya. Saya saja mungkin cumak bisa mengurangi 0,5% dari penghasilan saya, itu juga kalok inget, kalok pas lagi bersyukur. Jadi trenyuh hati ini.
Duh Gusti Alloh....pangapura dosa awak ini......
Duh Gusti Alloh....tansah paringana dalan ingkang jembar
Duh Gusti Alloh....mugi-mugi tansah kathah panjenengan nyediani mangnusiya kayak beliau-beliau yang mau mendermakan sebagiyan hartanya itu.....
Duh Gusti Alloh....amin........

siyang ini mendung, tapi belum pulak turun hujan, wis jan syumuk tenan....gembrobyos....

Kamis, 06 Maret 2008

LARIANG tenan..... !!!!! (kumpulan kisah pendek)

LARIANG TENAN……….!!!!

Pagi itu semua berkemas, yang pertama disiapkan adalah perahu beserta perlengkapannya, dayung, pelampung dan helm. Perahu basemarine kuning, panjang 12 feet, sepertinya telah siap menerjang apapun, walaupun kata seorang karyawan TNC (The Nature Conservacy) perahu kami terlalu kecil, terlalu berbahaya untuk mengarungi sungai Lariang yang berjeram besar. Sarapan pagi, seperti menu lapangan umumnya, aku lupa persisnya. Aku, karrina, yayak, roni, wiwid, londo, arif dan aye sebagai pendamping gladimadya, ditemani bang suman sebagai guide lokal, sangat bersemangat menjalani hari ini. Dusun Tuare adalah desa terakhir sebelum pengarungan sesungguhnya di sungai Lariang. Sungai yang berhulu di Sulawesi Tengah dan bermuara di Sulawesi Selatan, memiliki panjang keseluruhan sekitar 175km. Merupakan batas terluar Taman Nasional Lore Lindu. Memiliki kontur bergunung-gunung dan gradien sungai yang sangat ideal untuk berpetualang arung jeram. Sekitar pukul 8.00 WIT, kami mulai mendayung. Jeram kelas 2 hingga 3 seperti menjadi pemanasan buat kami pagi itu. Scouting masih dilakukan dari atas perahu, manuver kiri kanan, dayung maju mundur, semua bisa terlewati dengan nyaman. Sepertinya hari ini kita akan asyik menikmati jeram sungai Laring. Memasuki pertemuan uwai (sungai) Pao, arus berbelok ke kanan, V-Wave berada agak ke kiri dan terbaca jelas, sebelah kiri tebing dengan tinggi sekitar 3 meter dari permukaan air, posisi jeram di sebelah kiri badan sungai. Sekilas kita lihat kelas jeram adalah 3+. Perahu ditambatkan di sebelah kiri sungai, sambil merayap tebing, scouting dilakukan dari entry point jeram hingga akhir. Tiba di atas ujung akhir jeram, semua personil terpaku, diam dan melihat ke arah bawah sungai, sebagian duduk, sebagian lain berdiri. Terlihat jeram kelas IV sambung menyambung dengan jeda yang sangat pendek, mungkin cuma sekitar 10-20 meter dengan panjang jeram sekitar 50 hingga 100 meter. Semua seperti seragam berfikir, “kalo balik nggak mungkin, brarti mau nggak mau harus turun”, dengan segala resikonya. 8 hari kemudian kami sampai di desa pertama, Pilimaku Jawa, esoknya kami sampai di akhir tujuan, jembatan Gimpu.

Mapagama sebagai institusi hanya mengajari aku berarung jeram sampai tingkat PPAM (Program Pendidikan Anggota Muda) yang dilaksanakan cuma 2 kali dengan materi dasar pengarungan dan rescue. Selebihnya aku dapatkan dari teman-teman arung jeram di Yogyakarta, menemani rekan Mapala dari luar Jogja, beberapa kali menjadi pemandu trip arung jeram. Pada persiapan ke Lariang pun aku dan anggota tim hanya sempat berlatih sekali di sungai Progo jalur Klangon-Ancol selama 3 hari di mentori oleh Wahju (thank’s a lot dab). Pernah juga berlatih jadi atlit arung jeram yang disiapkan di sungai Serayu selama 5 hari di dampingi Farid (he’s my rafting mentor) menggunakan perahu LCR merah, banjir, perahu penuh air, hanya boleh diisi 4 orang, biar lincah slalom di jeram katanya, tapi pake LCR penuh air ??? Top markotop.


Operasi Gunung Sumbing

Aku masih ingat ketika pertama kali naik gunung di gunung Sumbing, April 1991. hanya berdua dengan temanku sesama wong ngapak-ngapak dari Kebumen, pak Ta’at. Mulai naik malam jam 8, sampai puncak jam 4.30 pagi. Sejak itu mimpi-mimpi mendaki gunung yang lebih tinggi selalu muncul. Kebetulan kedua kakakku juga anggota Mapala, inspirasi itu semakin kuat. Dengan bekal cerita dari mereka, aku mendaftarkan diri ke Mapagama. Begitu dinyatakan diterima, kalo nggak salah peringkat 3 (tiga) dari sekitar 30-an pendaftar yang lolos, aku langsung merasa ngganteng. Wah, bakalan membawa nama Universitas Gadjah Mada. Nama perguruan tinggi yang menjadi cita-cita menimba ilmu bagi sekian juta lulusan SMA di Indonesia, belum termasuk yang dari luar negeri. Walaupun aku belum pernah dengar atau baca satupun kiprah Mapagama, di manapun. Sekali lagi dengan bekal dari kakakku, gladimula aku lewati dengan label peserta yang manis, penurut dan sedikit hukuman.


Gladimula oh Gladimula…..

Semua peserta dikumpulkan di Hall Teater, berdiri dengan jarak sekitar 1,5 meter antar peserta. Bentakan bagiku biasa, wong bapakku lulusan TNI Angkatan Darat. Tapi kharisma Triman dan Cecep “genjik” sempat membuatku tak mampu berfikir untuk pulang. “Bagi siapa saja yang ingin pulang, silahkan kemasi barangnya, saya tunggu”, begitu katanya. Tanpa intonasi kuat, berkacak pinggang atau pasang tampang sangar, hanya suara datar tapi mengandung banyak sekali aura di dalamnya. Semua terdiam, menunduk.

Gladimula yang diikuti 21 orang peserta, bertempat di Djobolarangan, kaki gunung Lawu. Berkat Londo dan Genjik, aku jadi tahu perbedaan antara Tlaga Pasir dan Tlaga Sarangan, tidak ada sama sekali. Penasaran itu dipicu oleh keterangan peta buatan tahun 1938, alias jaman kumpeni, yang bertuliskan Tlaga Pasir. Dengan gagah berani Londo berani memastikannya sebagai Tlaga Sarangan. Untuk membuktikannya harus didatangi. Tapi Budi dan Iping sebagai pendamping gladimula kelompok empat, Aku, Nelly, Indra dan satunya lagi aku lupa, tetap mengikuti dengan tersenyum, “hehehehe….. Londo”, katanya. Malam sebelum teka-teki tlaga terpecahkan, hari kedua survival, kami membuat bivak dari dua jas hujan plastik yang disambung, letaknya di atas bukit persis utara Tlaga Sarangan, yang aku ingat kami berada di atas air terjun. Ketika hujan turun, salah satu sisi menjadi wilayah tandon hujan, kebetulan berada persis di atas kepala kami. Entah jam berapa, kami bangun untuk memutar posisi tidur, bagian tandon air di atas kepala kami, sekarang berada di atas kaki. Kami pun tertidur lagi, kedinginan tentunya. Di luar suasana masih gelap gulita, tiba-tiba dari bagian kepala hingga badan kami disiram air, byur..... Kami berempat bangun, kaget. Segera keluar bivak untuk memeriksa keadaan dan mengetahui yang sedang terjadi. Ternyata eh ternyata, jas hujan kami sobek, posisi yang kami kira aman, tidak jadi tandon air, malah sebaliknya.

Tak....tak....tak.... krtk...krtk....krtk.... sekujur badan kedinginan hingga gigi kami bergemeretak. Embun dan gerimis kecil masih saja turun. Baju cadangan satu-satunya, sak jaket-jaketnya basah. Sisa korek yang ada untuk menyalakan lilin, selanjutnya membuat api unggun untuk menghangatkan diri dan mengeringkan baju basah kami. Dari bivak sebelah, satu-persatu peserta gladimula kelompok V keluar ikut menghangatkan diri. Katanya mereka semalaman nggak bisa tidur karena kedinginan. Bivak yang mereka buat kurang bagus, membuat pakaian hangat mereka juga kena embun, basah nyemek-nyemek. Baju kami bentangkan menggunakan ranting menyerupai hanger, meletakkannya di pinggir api.

Matahari mulai terlihat dari sela-sela pohon pinus. Badan kami sudah terasa hangat, begitu juga baju kami yang telah mengering, termasuk kaos, celana dan kaos kaki lapangan. Setelah berhari-hari menggunakan baju basah selama gladimula, harapan kami hari ini kami menggunakan baju kering. Namun yang terjadi, baju kami baunya sangat menyengat hidung, sangit kata orang jawa, pol-polan.... Lumayan pengganti aroma tubuh dan mulut yang belum mandi selama 8 hari. Pagi hari sebelumnya, karena kelaparan kami berusaha menangkap burung warna hijau dengan motif warna merah di dadanya yang hinggap di atas pohon. Caranya dengan melempar kayu ke arahnya. Nggak cuma sekali melemparinya, tapi sekitar 3 atau 4 kali. Benar-benar guoblok, kegoblokan yang hanya terjadi pada orang bodoh dan kelaparan dan mungkin memang dasarnya goblok. Aku sampai mengutuk otakku dan teman lainnya.

Siang kami disuguhi ular bakar kasil tangkapan Londo, kira-kira sebesar ibu jari kaki saya dan panjang 50cm. Karena jumlah kami ber-sembilan, dari 2 kelompok, masing-masing mendapat jatah sekitar 5,5cm. Dengan kebaikan hatinya Londo menciprati ular kami dengan saos sambal botolnya. Benar-benar ular bakar paling enak yang pernah saya rasakan.

Hari ketiga, waktu penarikan survival, menurut jadwal tidak boleh lebih dari jam 4 sore. Tapi jarak dari tempat kami nge-camp ke Cemoro Sewu (basecamp) sangat jauh, setengah hari, dalam kondisi kelaparan hanya bisa mencapai Tlaga Sarangan alias Tlaga Pasir sialan. Melewati ladang penduduk, turun ke jalan aspal. Sepanjang jalan, banyak sekali berserakan kobis maupun wortel reject hasil panen penduduk. Sebagai peserta gladimula yang taat menjalankan survival, kami tak memungutnya, walaupun sayuran itu tersenyum dan melambaikan tangannya ke kita. Ayo sayang.....lapar kan....... ????? bajigur sumur anak setan ra karuan, kata kami dalam hati. Tapi untuk pertama kalinya juga kami bisa merasakan naik mobil barang di dalam box belakang, rasanya luas dan gelap. Bubur kacang ijo, here we come...........!!!!


take a picture, than sleep

Ekspedisi Foto Luweng Jaran, indahnya mutiara gua. Masuk lorong bumi, yang kukagumi pertama adalah chamber pada pitch kedua sebesar lapangan sepak bola, mungkin lebih. Dari atas semua terlihat baik-baik saja. Begitu turun ke bawah, oopss..... berada diantara bongkahan batu segede kamar, salah jalan bisa muter-muter. 5 hari berada di dalam goa, tidak merubah jam biologisku, pagi sampe sore masuk gua, malam tetap tidur nyenyak. Hal kedua yang teringat kuat adalah, sehari setelah Yayak memasang jalur turun, sorenya hujan turun deras. Ya ampunnya, Luweng Jaran adalah tempat penampungan akhir air di wilayah itu, semua saluran air berujung di situ. Awalnya kami baik-baik saja di dalam tenda, sampai akhirnya menyadari, floor tenda lama kelamaan menggelembung naik, ternyata kita juga berada di jalur saluran air. Dengan sigap kami memberesi semua barang dan keluar dari tenda. Tapi apa daya, hanya sedikit yang mampu terselamatkan dengan baik, sebagian besar kalo nggak basah yang jadi penampungan air. Esoknya kami seperti buka pasar dengan memajang semua barang kami di luar tenda, sebagian di jereng dg tali, sebagian lain main tumpuk atas batu. Bapak-bapak...ibu-ibu....cawet seribu tiga, bonus bahan kurap, panu dan obat anti ngganteng.

Sebagai fotografer, Aye adalah tipe perfeksionis. Tes lampu sana sini, cari angle terbaik, diafragma, speed, untuk hasil terbaik, hanya yang terbaik. Bagi kami sebagai flash-ers momen ini bisa digunakan untuk tidur sejenak, sekitar 15-30 menit, lumayan lah. Begitu seterusnya, dengan jam kerja sekitar 12 jam sehari, masing-masing gambar butuh waktu 30 menit, dikurangi istirahat 30 menit, naik turun gua 1 jam, tetek bengek lainnya sekitar 1 jam, maka kami sehari rata-rata bisa dapat 19 obyek foto, itu kalau tidak diulang. Peralatan yang kami gunakan memang sangat sederhana untuk sebuah kegiatan bernama Ekspedisi Foto, Luweng Jaran lagi. Tidak semua orang bisa masuk kecuali dapat ijin dari pemerintah daerah setempat. Ijin juga tidak mudah diberikan walaupun sebelumnya pernah melakukan kegiatan di empat yang sama, ada wawancara, surat pengantar, daftar personil, jadwal, bla.....bla....bla.... hanya menggunakan helm boom, senter dan empat buah lampu flash terpisah dan lampu flash yang menempel di kamera, foto yang dihasilkan lumayan indah. Apalagi..... Ini pengalaman pertama Aye jadi fotografer di gua, Aye.......!!

Sekali waktu Aye agak sewot karena aku tertidur waktu disuruh menyalakan lampu flash. Saking sewotnya dia ikut tidur bersama anggota lain, waktu bangun, api di helm boom sudah ketap-ketip hampir mati, dan kedinginan. Ternyata tidur di dalam gua juga harus masuk tenda dan pake sleeping bag, seperti Mapala UI dulu dan tim gabungan dari Perancis dan Jepang yang membawa generator. Untuk kegiatan yang mengusung nama ekspedisi, kami melakukan rapat di angkringan atau di warung pecel lele trotoar jalan, yang sekarang menurut rencana jadi mall-nya UGM. Tak ada kesan wah... seperti biasanya, dengan berbagai skandal konsep dan rencana muluk-muluk. Just ride your bike and take a picture, the real Mapagama. Sebuah sikap jauh dari kemewahan sebuah ekspedisi yang penuh dengan rapat, latihan, perijinan, publikasi dan tetek bengek lainnya.


Dicari Pemecah telor

Perjalanan lain yang membuatku ingin mengulanginya adalah jalan-jalan ke Semeru. Sebagian besar adalah angkatan Tapak 2115. Aku, Triwina, Nelly, Wiwid ”klepon”, Roni, Indra, Aji ”upil”, Adi dan arif ”pak sukri”. Tambahan Astarina (ASA), Rina ”Glondongan” (Six Duck) dan Ari ”asu” (Kendil). Berangkat dari stasiun Lempuyangan, menuju Surabaya, disambung dengan bis ke Malang. Menginap di Mapala Jonggring Saloka. Pagi-pagi mruput dari Malang menuju Ranu Pane langsung meluncur ke Ranu Kumbolo. Semua terlihat begitu heroik, carrier, kapasitas 70 liter minimal, di belakang dan daypack di depan, termasuk Triwina yang berbadan kecil dan ber-carrier besar, kapasitas 90 liter. Sebagai leader Ari ”asu”. Ingatannya ternyata tak begitu bagus, walaupun diterima di tehnik nuklir. Jalur pertama yang kita ambil, jalan sekitar 30 menit, ternyata salah. Tanya penduduk dan kembali ke jalan yang baik dan benar. Target kami sampai di Ranu Kumbolo jam 4 sore, sesuai petunjuk penduduk yang katanya bisa dicapai sekitar 4-5 jam. Baru jalan 1 jam-an, perjalanan melambat. Triwina yang terlihat macho dengan carriernya, berhenti setiap 3 langkah, tarik nafas sekitar 5 menit. Begitu seterusnya. Setengah perjalanan, hari mulai gelap. Tak tahan dengan istirahatnya Triwina, aku berinisiatif membawakan carriernya, agar perjalanan menjadi lebih cepat. Begitu lepas carrier dan tarik nafas sebentar, Triwina langsung ngacir di depan, meninggalkan aku, Aji dan Indra di belakang, yang sedari tadi menemaninya. Giliran aku yang kembang kempis bawa dua carrier dan 1 daypack. Usut punya usut, Triwina sudah jauh meninggalkan kita bertiga di belakang, mungkin sekitar jarak 15 menit pendakian. Kurang ajar........ ”Win..... balik...!!!!”, teriakku. Setelah aku berhasil menyusulnya, kuserahkan carriernya dengan senang hati dengan nafas cepat dan pendek, hos.....hos....hos.....

Ranu kumbolo adalah danau yang terletak di ketinggian sekitar 2000-an mdpl, kalo nggak salah. Terdapat sebuah pemondokan dari kayu plus teras dan ruangan dalam untuk istirahat. Cuma kan nggak macho kalo tidur di pondokan, jadi kami tetep membuka tenda di pinggir danau. Saat kami datang satu rombongan dari Jakarta bersiap menuju puncak. Hai-hai sedikit, mereka cabut dengan gagah perkasa. The most exciting camping ground i’ve ever know.

Esok pagi, perjalanan siap dimulai. Bagi logistik, tenda, matras, beras, mie, ikan asin, sarden, pesta puncak, lilin sampai korek. Bagi setiap lelaki dapat jatah tambahan air minimal 5 liter, pake jerigen atau botol minuman mineral, terserah. Masih dengan heroismenya, kami saling mengecek carrier untuk memastikan beban terbagi rata. Giliran carrier Wiwid ”klepon” diperiksa. Dari luar carrier 70 liternya terlihat penuh dan berat, sampai beberapa barang diikat di luar. Ternyata eh ternyata, jerigen air yang dia masukkan ke dalam carrier masih kosong, tanpa air. ”Bongkar.........”, teriak kami semua. ”Hahahaha........konangan”, kata Wiwid.

Tanjakan cinta, Oro-Oro Ombo, Cemoro Kandang, Kali Mati, Arcopodo. Di tempat terakhir ini kami buka tenda lagi. Arcopodo mirip kuburan, di sana sini banyak plakat in memoriam, bikin kami merinding. Kalo tar malem ada yang datang ke tenda dan kasih tahu jalannya gimana ya ???? Hiii.....mending tidur ngimpi pacaran sama Desi Ratnasari. Jam 5 pagi, kalo gak salah Ari membangunkan kami untuk segera menuju puncak. ”Bawa daypack, air sama pesta puncak aja”, gitu katanya. Perjalanan serasa melayang, cepet banget, Cuma sekitar 45 menit. Tiba-tiba bum....dibelakang kami kawah Jonggring Saloka mengeluarkan asapnya, samar-samar terlihat dari balik kabut. ”Pesta puncak......”, kata kami. Jam 9 kami kembali ke tenda, beres-beres dan kembali ke Ranu Kumbolo. Rombongan dari Jakarta sudah mendahului kami turun sewaktu kami baru tiba di Arcopodo kemarin sore.

Hujan rintik-rintik selama perjalanan. Belum selesai beres-beres, aku mengeluarkan pancing, menyalurkan hobi. Waktu menunjukkan pukul 15.00. Kulempar tali pancing ke tengah di dua tempat sekaligus. Sore itu kami bersantai , tiduran di matras menghadap ke danau. Dunia terasa begitu tenang dan nyaman, kenyamanan yang tidak ingin kami lewatkan, bahkan untuk Desi Ratnasari. ”Mandi yuk”, ajak Ari. Ciat.......byur... Aku, Roni, Indra, Adi, Yaya dan Ari. Setelah mandi dan keramas, badan terasa segar bugar. Tiba-tiba kepala kami terasa pusing yang amat sangat. Dipegang, dielus-elus, dijambak tetep aja kerasa pusing. Ternyata rasa dingin yang menyengat dan tipisnya oksigen membuat kami merasa pusing. Obatnya ya tidur, merem walaupun cuma sebentar.

Sekitar pukul 17.00, kabut tebal turun, seperti gerimis. Aku keluar dari tenda setelah merasa agak baik dengan kepalaku, bermaksud memeriksa pancing yang kupasang, salah satunya disambar ikan, seukuran 5 jari orang dewasa. Dimasak orek-orek campur sayur, tak terasa ikan sedikitpun karena terlalu sedikit. Saat menyisir pinggir danau, ikan-ikan berenang ke pinggir, mencari air yang lebih hangat. Seandainya membawa jaring, bisa dapet ikan banyak, seandainya. Kegiatan malam itu lebih banyak dihabiskan bersenang-senang, camping critanya. Para wanita menyiapkan makan malam mewah ala Rina, yang tadi sore mendapat ransum sisa rombongan dari Jakarta hasil barter dengan nomor telpon Triwina yang belum terdaftar. Para laki-laki menyiapkan tenda, perapian, cuci piring, bikin jemuran. Lagi-lagi Triwina, telor yang telah dipegangnya lebih dari 15 menit yang lalu masih saja diputar-putar. ”Win...telornya”, kata juru masak. Tak ada sahutan, diam. Juru masak menoleh ke arah Triwina dan melihat telor yang dipegangnya masih utuh, berputar-putar di tangannya. ”Gimana caranya buka telor sih.....??”, kata Triwina. ”Hua.....ha....ha...”, serentak kami tertawa terpingkal-pingkal. Selepas malam, gerimis turun lagi, mematikan api unggun kami.

Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru hari ini cerah berawan, begitu laporan BMG (Barkah Meteorologi dan Geofisika), hari terakhir perjalanan trek Bromo-Semeru. Terlihat air danau Ranu Kumbolo melambaikan tangannya, ”Selamat bobok empuk sayang, come back and visit us next time”, begitu kami menggambarkan suasana ketika meninggalkannya. ”I’ll be back”, balas kami. Hanya sesekali kami merasakan panasnya padang pasir gunung Bromo. Sementara angin berhembus dengan bersahabat. Kali ini Triwina dilepaskan terlebih dahulu agar tidak tertinggal jauh di belakang, lagi. Nggak tahunya, kalo melewati jalur datar, langsung ngebut bareng Arif. Tertinggal di belakang justru Astarina yang terlihat mulai kesal karena nama angkatan ASA diplesetkan menjadi Angkatan Salah Asuhan. Asta......oh......rina. Udara malam kawasan gunung Bromo tidak sedingin seperti cerita banyak orang, satu buah sleeping bag digelar untuk selimut bareng-bareng. Hingga pukul 04.30 Ari membangunkan kami untuk melihat panorama matahari terbit dari atas puncak Bromo. Aku masih tetap setia dengan tenda dan selimutku. Tak lama, suara kaki kuda menghampiri tenda, aku kira penduduk hendak menawarkan wisata kudanya. Pintu tenda kubuka perlahan, lagi-lagi terlihat Triwina turun dari kuda sambil memberikan beberapa puluh ribu kepada pemilik kuda. ”Makasih ya pak”, sambil tersenyum. Yang aku ingat selama beberapa kali perjalanan dengan Triwina adalah beberapa tingkahnya yang asyik. Kalo nggak diajak ngomong, jadi pendiam abis, setelah diajak ngomong baru ketahuan aslinya, lucu juga anak ini, kataku dalam hati. Seperti ketika menjadi tim darat gladimadya Lariang 1999, di salah satu desa dalam perjalanannya dan pesta ikan bakar pasar Palu, dia menghabiskan porsi makan melebihi porsinya Londo, 3 piring nasi, 2 ekor ikan bakar jumbo dan sekitar 3 gelas air minum. Luar biasa.


Arung Jeram, mister ???

Ingatanku kembali ke peristiwa ketika diajak mas Farid membawa tamu dari Swedia menyusuri sungai Serayu, menggunakan perahu Lingsang merahnya. Bersama Ananta ”Bebe” Yudiarso, kami memperagakan perintah, left paddle, ringht paddle dan back paddle. Istilah yang mendadak kami terjemahkan dari bahasa gaul Mapagama rafter mania. Berbeda dengan tamu lokal yang hanya membawa baju ganti, mereka dengan santainya membawa handycam, camera SLR panjang plus peralatan arung jeram pribadi standar. Selidik punya selidik, mereka beberapa kali mengarungi sungai di wilayah eropa timur. Oopps…. jadi minder.


Naik Gunung kok Kotor....

Perjalanan di hutan paling menyenangkan buatku kalo mengajak Rina ”Glondongan”, terutama lereng Merapi yang menjadi medan favoritnya. Peralatan camping pastilah lengkap, makanan standar eksekutif lapangan Mapagama (kornet, sarden, roti tawar plus selai buah dan kacang, minuman berwarna rasa buah dan baju ganti setiap hari, parfum, lotion anti nyamuk, pelembab, lip gloss) tak lupa membawa payung. “Kalo hujan nggak kebasahan, kalo panas gak jadi item. Kalo difoto jadi keren”, begitu katanya. Lereng merapi dari Delta sebelah barat hingga pegunungan Kendil sebelah timur adalah rute favoritnya. Itulah Rina “Glondongan” Tania Furry, campers Mapagama sejati.


Gantengnya Pendampingku

Gladimula XVI aku didapuk jadi pendamping peran jahat, katanya wajah plus rambut gondrongku sangar. Angkatan Racun adalah pengalaman pertamaku menjadi pendamping. Bareng Yayak di navigasi, karena ilmu peta kompasku yang jeblok, namun perkasa. Bertolak belakang dengan Yaya. Bersama Edi ”behong” Mukhtar disesi survival. Malam pertama peserta aku bawa ke punggungan sebelah barat bukit Kendil melalui jalur atas gua Jepang. Londo dan rombongannya nge-camp di bawah puncak Kendil bergerak ke arah timur. Agar tidak bertemu, kami bergerak mengarah ke bawah menuruni lembah. Satu per satu peserta dikenalkan pada tanaman survival, begonia, palem, pakis beserta daunnya, pucuk daun rumput. Tak lupa, siapkan parang di tangan kanan dan kecap di tangan kiri. Kalo sewaktu-waktu ketemu hewan, apapun, langsung sikat. Yang penting bisa survive. Hingga akhirnya aku bilang ke Edi, bahwa talas hutan juga bisa dimakan. Begitu pengetahuan yang aku dapat dari mas Cecep waktu gladimula. ”Ah moso....”, kata Edi. ”Coba aja” timpalku. Tanpa mengindahkan kaidah teori survival, Edi langsung menggigit buah talas yang dicungkil dengan pisaunya. ” hah....panas, perih, asu tenan ngapusi kowe....”, dengan marah Edi membentakku. Dari dalam mulut dan hidungnya terus menerus keluar lendir seperti ingus. ”Aku keracunan, kah”, kata Edi. Beberapa botol air sungai gua jepang sudah ditelannya, namun tak juga menghilangkan rasa panas dan perih di mulut dan hidungnya. Karena panik, aku bergegas lari di ke depan mencari jalur untuk turun ke basecamp, yang lain tergopoh-gopoh mengikutiku dari belakang. Wah, tengsin sama peserta nih. Masa pendamping keracunan, ra hebat. Sesampainya di Bak Air, kurelakan kepulangan Edi ke basecamp Bebeng. Aku menyuruh peserta mendirikan bivak disekitarnya. Waduh, baru sekali jadi pendamping kok sendiri, kalo tiba-tiba bekal makanku dirampok peserta, piye..... nggak mau lebih turun derajat sebagai pendamping, aku mendatangi bivak peserta dan pura-pura menanyakan keadaan mereka. ”udah disiapin makan malamnya belum ?” tanyaku. Sambil tersenyum kecut Akbar menjawab ”Belum mas, masih nyiapin tenda” katanya. Tenda apa......??? bivak kok tenda. Kuangkat kakiku masuk ke dalam tenda. Kunyalakan HT dan mencoba kontak dengan tim lain, tak lupa kontak basecamp minta tambahan personil untuk nemenin aku. Setengah jam kemudian, Adi ”Lombok” berteriak ole....ole...

Untuk kedua kalinya sebagai pendamping yang panik adalah ketika menyuruh peserta Gladimula XVII Bhezet latihan self rescue di sungai Progo, rute standar gladimula. Tidak seperti yang lain, menyuruh peserta turun di air tenang, aku justru menyuruh ke enam peserta turun ke jeram betulan, kelas II. Panjang jeram hanya sekitar 30 meter, tapi karena pengalaman pertama, 2 orang peserta terseret ke arah kanan sungai, masuk jeram dan terseret Eddies. Tiba-tiba terbentuk Boils besar, dua orang peserta terseret ke bawah, tenggelam. Kuperintahkan perahu di belakang, Arif ”pak sukri”, untuk menyusul peserta yang hampir kehabisan tenaga. Slamet......slamet..... 4 orang lain yang terseret ke kiri, tak kalah keras berteriak minta tolong. Dari kejauhan yang terdengar ”tolooomm......tolooomm......”, tentunya sambil menengguk air sungai Progo. Aku pikir, jalur sebelah kiri aman, jadi kubiarkan saja mereka menikmati jeram pertamanya. Selepas jeram perahu ke pinggir. Satu orang peserta ketakutan sambil meringkukkan badannya di atas perahu. Aku mencoba menenangkannya, tapi sia-sia. Rupanya ketakutan itu sudah amat sangat. ”Masih berani dayung nggak ?” tanyaku. Tak bersuara, tapi peserta itu, aku lupa namanya, menggeleng-gelengkan kepala. Aku suruh dia duduk di tengah perahu sambil berpegangan tali. Anoen, peserta lainnya yang juga ketakutan, masih cukup berani memegang dayung. Unextraordinary woman.


Mati Tenggelam Ala MAPAGAMA

Arung jeram merupakan divisi favoritku, hampir setiap minggu aku menyempatkan diri membawa perahu merah atau kuning bermain-main di sungai. Pada kesempatan lain, aku turun bareng temen-temen Mapala lain atau operator sekitar Elo. Eksplorasi sungai, itu yang terlintas di kepalaku. Cukup jenuh juga melalui jalur Elo, Progo dan Serayu. Bersama Aye yang nenek moyangnya dari Banjarnegara, aku mempelajari sungai Pekacangan dari peta. Aku masih ingat, ketika pertama kali belajar berenang, di sungai Pekacangan, persis di bawah dam tempat aku mengalami kecelakaan. Kebetulan kelas IV dan V sekolah dasar-ku berada tepat di pinggir sungai Pekacangan, desa Bondolharjo, kecamatan Punggelan. Sungai yang berhulu di kecamatan Karangkobar, mengalir hingga kabupaten Banyumas. Kontur wilayahnya yang bergunung-gunung sangat potensial membentuk jeram. Hampir sebulan kami merencanakan perjalanan ini. Aku, Aye, Wahju, Yayak, Toni dan Karrina. Tanda-tanda akan terjadi musibah bisa kurangkai setelah berlalu beberapa hari. Pertama, yang namanya cari mobil untuk perjalanan Yogyakarta-Banjarnegara susahnya setengah mati, yang didapatkan kijang super warna abu-abu. Kedua, pada perjalanan menuju Banjarnegara, berangkat sekitar jam 12.00 malam, roda belakang kanan tiba-tiba bocor di Magelang. Perjalanan dilanjutkan menggunakan ban serep. Ketiga, selepas dari Magelang, mulut ini gak bisa yang namanya diem. Kalo gak crewet gojek ya nyanyi, seadanya, dari dangdut, pop, rock sampai lagu yang tidak aku sukai juga mengalun dengan merdu. Yang lain....???? Groookkk....groookkk.... tidur pulas, hanya Wahju the driver yang setia mendengarkanku. Sesampainya di kota Banjarnegara, mobil berhenti, sebagian makan srabi, sebagian mencari rokok di warung yang masih buka, waktu itu kira-kira pukul 4.30 pagi. Tak cukup puas dengan srabi, perjalanan dilanjutkan menuju kecamatan Wanadadi. Berhenti di pusat keramaian, pasar. Tanya kiri kanan, kami temukan penjual nasi dorongan dengan sayur oseng-oseng dan lauk mendoan. ”Lumayan mas, bisa buat oyag-oyag perut”, kata penjualnya. Satu bungkus terasa kurang, bungkus kedua meneruskannya. Kamipun bergegas menuju desa tujuan, entry point. Penduduk desa dari anak kecil hingga orang tua terkagum-kagum dengan perahu yang kami bawa. ”Bisa ditumpaki mas ?” tanya mereka. ”Arung jeram itu apa mas ?”, masih dengan logat ngapak-ngapak ala pinggiran Banjarnegara.

Anggota tim membentuk lingkaran, telapak tangan disatukan ”Viva Mapagama, so....so....so....”. Perahu diangkat ke atas pundak, perlahan-lahan diturunkan ke sungai. Arus utama berbelok ke bahu kiri sungai, membentuk jeram kelas III, panjang jeram sekitar 50 meter. Persis di atasnya terdapat jeram dengan kelas yang sama. Selepas jeram, edies panjang sampai ke dam. Aku duduk di depan aye, sebelah kiriku Karrina, didepanku Yayak dan sebelah kiri depan Toni. Komposisi untuk menyeimbangkan kekuatan dayungan. Kalo lolos melewati dam, wahju duduk bersebelahan dengan Aye, konfigurasi double skeeper. Sekilas dari atas, tinggi dam sekitar 2 meter, ketinggian yang aman untuk dilewati, walaupun dengan resiko terseret arus balik. Wahju siap siaga berdiri di pinggir sungai lengkap dengan kamera dan throwing bag. Skenario yang kami buat, mendayung kuat, setelah masuk jeram semua dalam posisi Bum. Dari jauh aku sudah mulai mendayung, walaupun aba-aba dari Aye sebagai skeeper, belum ada. Aku pikir, kalo perahu melaju cepat, arus balik dapat dilewati. Semakin dekat dam, perasaanku semakin tidak karuan. Dayung aku celupkan semakin dalam, ditarik pelan-pelan. Persis di depan mulut dam, aye memulai aba-aba dayung. Ujung perahu masuk dam, Aye memberi aba-aba Bum. Semua melempar badannya ke dalam perahu, kecuali aku. Dayung masih aku tancapkan kuat-kuat. Perahu meluncur cepat ke bawah, badanku seperti ditarik ke belakang, mencari keseimbangan. Tiba-tiba badanku seperti didorong dengan kuat dari belakang dengan cepat. Aku terlempar, masuk ke pusaran air, byuurrrr...!!! Di dalam air, semua terlihat gelap, akupun berusaha naik ke atas. Sampai di permukaan, aku menarik nafas panjang, sesekali melihat sekeliling mencari posisi perahu. Belum dapat kuraih perahu, aku tertarik arus ke bawah lagi. Untuk ke sekian kalinya, aku berusaha berenang ke bawah mengikuti arus. Aku lupa berapa kali keluar masuk pusaran air termasuk berapa liter air sungai yang sudah ku minum. Yang kurasakan, nafasku semakin pendek dan berat. Sadar dengan kondisi ini, aku menarik nafas sekuatnya, berenang ke dasar sungai, mencari arus bawah, mengikutinya, kemudian berenang kembali ke atas. Dasar sungai berhasil kucapai, sambil memegang benda menyerupai kawat atau pohon bambu, aku mengikutinya, ke bawah.

”Tarik....tarik.....”, lamat-lamat kudengar suara, entah siapa dan dari mana. Badanku terasa terguncang-guncang. Suara gaduh seperti pasar, saling berteriak, menyahut, memberi perintah. Sesaat kemudian kesadaranku mulai muncul. Suara mesin mobil, guncangan keras dan hoak......hoak..... aku muntah. Dalam kesetengahsadaranku, kulihat warna hitam dan coklat keluar dari mulutku, beberapa kali. Kesadaranku bertambah. Aku mulai mengerti kalau sekarang berada di rumah sakit, tapi entah dimana. Tiba-tiba ada selang panjang masuk ke mulutku, melewati tenggorokan dan hoak.....hoak.....aku muntah lagi, tidak sebanyak sebelumnya, tapi masih berwarna hitam dan coklat. Aku menengok ke arah pundakku, kurasakan ada yang memasuki tubuhku lewat tangan, jarum suntik. Aku merasa kepalaku sangat pening, detak jantungku bergerak sangat cepat, sekujur badanku lemas, perut mual dan rasa perih diantara hidung dan mulut hingga tenggorokan. Bahkan untuk menggerakkan badan pun rasanya nggak mampu. Aku hanya pasrah, bingung, mencoba merangkai hal selain menyadari baru saja tenggelam. Dokter bilang, beruntung aku berhasil diselamatkan dengan cepat, beberapa saat terlambat mungkin tewas. Cairan yang dimasukkan ke tubuhku ternyata adrenalin. Fungsinya memompa jantung, agar darah bergerak lebih cepat. Beliau cerita, beberapa tahun yang lalu adiknya, anggota Mapala juga, mengalami kejadian serupa di salah satu sungai di wilayah Jawa Barat. Setelah kesadaranku pulih, aku meminta tim menghubungi ibuku di Sokaraja. Beberapa jam kemudian, ibu membawaku ke rumah sakit Banyumas.

Tak hanya berhenti di situ, setiap kali mendengar atau melihat yang namanya air, ketakutanku muncul lagi, amat sangat. Selama sekitar seminggu, aku mandi menggunakan kain basah, sibin, buang air kecil sambil merem. Minum pun menggunakan sedotan, merem juga.

To be continued........