







LARIANG TENAN……….!!!!
Pagi itu semua berkemas, yang pertama disiapkan adalah perahu beserta perlengkapannya, dayung, pelampung dan helm. Perahu basemarine kuning, panjang 12 feet, sepertinya telah siap menerjang apapun, walaupun kata seorang karyawan TNC (The Nature Conservacy) perahu kami terlalu kecil, terlalu berbahaya untuk mengarungi sungai Lariang yang berjeram besar. Sarapan pagi, seperti menu lapangan umumnya, aku lupa persisnya. Aku, karrina, yayak, roni, wiwid, londo, arif dan aye sebagai pendamping gladimadya, ditemani bang suman sebagai guide lokal, sangat bersemangat menjalani hari ini. Dusun Tuare adalah desa terakhir sebelum pengarungan sesungguhnya di sungai Lariang. Sungai yang berhulu di Sulawesi Tengah dan bermuara di Sulawesi Selatan, memiliki panjang keseluruhan sekitar 175km. Merupakan batas terluar Taman Nasional Lore Lindu. Memiliki kontur bergunung-gunung dan gradien sungai yang sangat ideal untuk berpetualang arung jeram. Sekitar pukul 8.00 WIT, kami mulai mendayung. Jeram kelas 2 hingga 3 seperti menjadi pemanasan buat kami pagi itu. Scouting masih dilakukan dari atas perahu, manuver kiri kanan, dayung maju mundur, semua bisa terlewati dengan nyaman. Sepertinya hari ini kita akan asyik menikmati jeram sungai Laring. Memasuki pertemuan uwai (sungai) Pao, arus berbelok ke kanan, V-Wave berada agak ke kiri dan terbaca jelas, sebelah kiri tebing dengan tinggi sekitar 3 meter dari permukaan air, posisi jeram di sebelah kiri badan sungai. Sekilas kita lihat kelas jeram adalah 3+. Perahu ditambatkan di sebelah kiri sungai, sambil merayap tebing, scouting dilakukan dari entry point jeram hingga akhir. Tiba di atas ujung akhir jeram, semua personil terpaku, diam dan melihat ke arah bawah sungai, sebagian duduk, sebagian lain berdiri. Terlihat jeram kelas IV sambung menyambung dengan jeda yang sangat pendek, mungkin cuma sekitar 10-20 meter dengan panjang jeram sekitar 50 hingga 100 meter. Semua seperti seragam berfikir, “kalo balik nggak mungkin, brarti mau nggak mau harus turun”, dengan segala resikonya. 8 hari kemudian kami sampai di desa pertama, Pilimaku Jawa, esoknya kami sampai di akhir tujuan, jembatan Gimpu.
Mapagama sebagai institusi hanya mengajari aku berarung jeram sampai tingkat PPAM (Program Pendidikan Anggota Muda) yang dilaksanakan cuma 2 kali dengan materi dasar pengarungan dan rescue. Selebihnya aku dapatkan dari teman-teman arung jeram di
Operasi Gunung Sumbing
Aku masih ingat ketika pertama kali naik gunung di gunung Sumbing, April 1991. hanya berdua dengan temanku sesama wong ngapak-ngapak dari Kebumen, pak Ta’at. Mulai naik malam jam 8, sampai puncak jam 4.30 pagi. Sejak itu mimpi-mimpi mendaki gunung yang lebih tinggi selalu muncul. Kebetulan kedua kakakku juga anggota Mapala, inspirasi itu semakin kuat. Dengan bekal cerita dari mereka, aku mendaftarkan diri ke Mapagama. Begitu dinyatakan diterima, kalo nggak salah peringkat 3 (tiga) dari sekitar 30-an pendaftar yang lolos, aku langsung merasa ngganteng. Wah, bakalan membawa nama Universitas Gadjah Mada. Nama perguruan tinggi yang menjadi cita-cita menimba ilmu bagi sekian juta lulusan SMA di Indonesia, belum termasuk yang dari luar negeri. Walaupun aku belum pernah dengar atau baca satupun kiprah Mapagama, di manapun. Sekali lagi dengan bekal dari kakakku, gladimula aku lewati dengan label peserta yang manis, penurut dan sedikit hukuman.
Gladimula oh Gladimula…..
Semua peserta dikumpulkan di Hall Teater, berdiri dengan jarak sekitar 1,5 meter antar peserta. Bentakan bagiku biasa, wong bapakku lulusan TNI Angkatan Darat. Tapi kharisma Triman dan Cecep “genjik” sempat membuatku tak mampu berfikir untuk pulang. “Bagi siapa saja yang ingin pulang, silahkan kemasi barangnya, saya tunggu”, begitu katanya. Tanpa intonasi kuat, berkacak pinggang atau pasang tampang sangar, hanya suara datar tapi mengandung banyak sekali aura di dalamnya. Semua terdiam, menunduk.
Gladimula yang diikuti 21 orang peserta, bertempat di Djobolarangan, kaki gunung Lawu. Berkat Londo dan Genjik, aku jadi tahu perbedaan antara Tlaga Pasir dan Tlaga Sarangan, tidak ada sama sekali. Penasaran itu dipicu oleh keterangan peta buatan tahun 1938, alias jaman kumpeni, yang bertuliskan Tlaga Pasir. Dengan gagah berani Londo berani memastikannya sebagai Tlaga Sarangan. Untuk membuktikannya harus didatangi. Tapi Budi dan Iping sebagai pendamping gladimula kelompok empat, Aku, Nelly, Indra dan satunya lagi aku lupa, tetap mengikuti dengan tersenyum, “hehehehe….. Londo”, katanya. Malam sebelum teka-teki tlaga terpecahkan, hari kedua survival, kami membuat bivak dari dua jas hujan plastik yang disambung, letaknya di atas bukit persis utara Tlaga Sarangan, yang aku ingat kami berada di atas air terjun. Ketika hujan turun, salah satu sisi menjadi wilayah tandon hujan, kebetulan berada persis di atas kepala kami. Entah jam berapa, kami bangun untuk memutar posisi tidur, bagian tandon air di atas kepala kami, sekarang berada di atas kaki. Kami pun tertidur lagi, kedinginan tentunya. Di luar suasana masih gelap gulita, tiba-tiba dari bagian kepala hingga badan kami disiram air, byur..... Kami berempat bangun, kaget. Segera keluar bivak untuk memeriksa keadaan dan mengetahui yang sedang terjadi. Ternyata eh ternyata, jas hujan kami sobek, posisi yang kami kira aman, tidak jadi tandon air, malah sebaliknya.
Tak....tak....tak.... krtk...krtk....krtk.... sekujur badan kedinginan hingga gigi kami bergemeretak. Embun dan gerimis kecil masih saja turun. Baju cadangan satu-satunya, sak jaket-jaketnya basah. Sisa korek yang ada untuk menyalakan lilin, selanjutnya membuat api unggun untuk menghangatkan diri dan mengeringkan baju basah kami. Dari bivak sebelah, satu-persatu peserta gladimula kelompok V keluar ikut menghangatkan diri. Katanya mereka semalaman nggak bisa tidur karena kedinginan. Bivak yang mereka buat kurang bagus, membuat pakaian hangat mereka juga kena embun, basah nyemek-nyemek. Baju kami bentangkan menggunakan ranting menyerupai hanger, meletakkannya di pinggir api.
Matahari mulai terlihat dari sela-sela pohon pinus. Badan kami sudah terasa hangat, begitu juga baju kami yang telah mengering, termasuk kaos, celana dan kaos kaki lapangan. Setelah berhari-hari menggunakan baju basah selama gladimula, harapan kami hari ini kami menggunakan baju kering. Namun yang terjadi, baju kami baunya sangat menyengat hidung, sangit kata orang jawa, pol-polan.... Lumayan pengganti aroma tubuh dan mulut yang belum mandi selama 8 hari. Pagi hari sebelumnya, karena kelaparan kami berusaha menangkap burung warna hijau dengan motif warna merah di dadanya yang hinggap di atas pohon. Caranya dengan melempar kayu ke arahnya. Nggak cuma sekali melemparinya, tapi sekitar 3 atau 4 kali. Benar-benar guoblok, kegoblokan yang hanya terjadi pada orang bodoh dan kelaparan dan mungkin memang dasarnya goblok. Aku sampai mengutuk otakku dan teman lainnya.
Siang kami disuguhi ular bakar kasil tangkapan Londo, kira-kira sebesar ibu jari kaki saya dan panjang 50cm. Karena jumlah kami ber-sembilan, dari 2 kelompok, masing-masing mendapat jatah sekitar 5,5cm. Dengan kebaikan hatinya Londo menciprati ular kami dengan saos sambal botolnya. Benar-benar ular bakar paling enak yang pernah saya rasakan.
Hari ketiga, waktu penarikan survival, menurut jadwal tidak boleh lebih dari jam 4 sore. Tapi jarak dari tempat kami nge-camp ke Cemoro Sewu (basecamp) sangat jauh, setengah hari, dalam kondisi kelaparan hanya bisa mencapai Tlaga Sarangan alias Tlaga Pasir sialan. Melewati ladang penduduk, turun ke jalan aspal. Sepanjang jalan, banyak sekali berserakan kobis maupun wortel reject hasil panen penduduk. Sebagai peserta gladimula yang taat menjalankan survival, kami tak memungutnya, walaupun sayuran itu tersenyum dan melambaikan tangannya ke kita. Ayo sayang.....lapar kan....... ????? bajigur sumur anak setan ra karuan, kata kami dalam hati. Tapi untuk pertama kalinya juga kami bisa merasakan naik mobil barang di dalam box belakang, rasanya luas dan gelap. Bubur kacang ijo, here we come...........!!!!
take a picture, than sleep
Ekspedisi Foto Luweng Jaran, indahnya mutiara gua. Masuk lorong bumi, yang kukagumi pertama adalah chamber pada pitch kedua sebesar lapangan sepak bola, mungkin lebih. Dari atas semua terlihat baik-baik saja. Begitu turun ke bawah, oopss..... berada diantara bongkahan batu segede kamar, salah jalan bisa muter-muter. 5 hari berada di dalam goa, tidak merubah jam biologisku, pagi sampe sore masuk gua, malam tetap tidur nyenyak. Hal kedua yang teringat kuat adalah, sehari setelah Yayak memasang jalur turun, sorenya hujan turun deras. Ya ampunnya, Luweng Jaran adalah tempat penampungan akhir air di wilayah itu, semua saluran air berujung di situ. Awalnya kami baik-baik saja di dalam tenda, sampai akhirnya menyadari, floor tenda lama kelamaan menggelembung naik, ternyata kita juga berada di jalur saluran air. Dengan sigap kami memberesi semua barang dan keluar dari tenda. Tapi apa daya, hanya sedikit yang mampu terselamatkan dengan baik, sebagian besar kalo nggak basah yang jadi penampungan air. Esoknya kami seperti buka pasar dengan memajang semua barang kami di luar tenda, sebagian di jereng dg tali, sebagian lain main tumpuk atas batu. Bapak-bapak...ibu-ibu....cawet seribu tiga, bonus bahan kurap, panu dan obat anti ngganteng.
Sebagai fotografer, Aye adalah tipe perfeksionis. Tes lampu sana sini, cari angle terbaik, diafragma, speed, untuk hasil terbaik, hanya yang terbaik. Bagi kami sebagai flash-ers momen ini bisa digunakan untuk tidur sejenak, sekitar 15-30 menit, lumayan lah. Begitu seterusnya, dengan jam kerja sekitar 12 jam sehari, masing-masing gambar butuh waktu 30 menit, dikurangi istirahat 30 menit, naik turun gua 1 jam, tetek bengek lainnya sekitar 1 jam, maka kami sehari rata-rata bisa dapat 19 obyek foto, itu kalau tidak diulang. Peralatan yang kami gunakan memang sangat sederhana untuk sebuah kegiatan bernama Ekspedisi Foto, Luweng Jaran lagi. Tidak semua orang bisa masuk kecuali dapat ijin dari pemerintah daerah setempat. Ijin juga tidak mudah diberikan walaupun sebelumnya pernah melakukan kegiatan di empat yang sama, ada wawancara, surat pengantar, daftar personil, jadwal, bla.....bla....bla.... hanya menggunakan helm boom, senter dan empat buah lampu flash terpisah dan lampu flash yang menempel di kamera, foto yang dihasilkan lumayan indah. Apalagi..... Ini pengalaman pertama Aye jadi fotografer di gua, Aye.......!!
Sekali waktu Aye agak sewot karena aku tertidur waktu disuruh menyalakan lampu flash. Saking sewotnya dia ikut tidur bersama anggota lain, waktu bangun, api di helm boom sudah ketap-ketip hampir mati, dan kedinginan. Ternyata tidur di dalam gua juga harus masuk tenda dan pake sleeping bag, seperti Mapala UI dulu dan tim gabungan dari Perancis dan Jepang yang membawa generator. Untuk kegiatan yang mengusung nama ekspedisi, kami melakukan rapat di angkringan atau di warung pecel lele trotoar jalan, yang sekarang menurut rencana jadi mall-nya UGM. Tak ada kesan wah... seperti biasanya, dengan berbagai skandal konsep dan rencana muluk-muluk. Just ride your bike and take a picture, the real Mapagama. Sebuah sikap jauh dari kemewahan sebuah ekspedisi yang penuh dengan rapat, latihan, perijinan, publikasi dan tetek bengek lainnya.
Dicari Pemecah telor
Perjalanan lain yang membuatku ingin mengulanginya adalah jalan-jalan ke Semeru. Sebagian besar adalah angkatan Tapak 2115. Aku, Triwina, Nelly, Wiwid ”klepon”, Roni, Indra, Aji ”upil”, Adi dan arif ”pak sukri”. Tambahan Astarina (ASA), Rina ”Glondongan” (Six Duck) dan Ari ”asu” (Kendil). Berangkat dari stasiun Lempuyangan, menuju Surabaya, disambung dengan bis ke Malang. Menginap di Mapala Jonggring Saloka. Pagi-pagi mruput dari Malang menuju Ranu Pane langsung meluncur ke Ranu Kumbolo. Semua terlihat begitu heroik, carrier, kapasitas 70 liter minimal, di belakang dan daypack di depan, termasuk Triwina yang berbadan kecil dan ber-carrier besar, kapasitas 90 liter. Sebagai leader Ari ”asu”. Ingatannya ternyata tak begitu bagus, walaupun diterima di tehnik nuklir. Jalur pertama yang kita ambil, jalan sekitar 30 menit, ternyata salah. Tanya penduduk dan kembali ke jalan yang baik dan benar. Target kami sampai di Ranu Kumbolo jam 4 sore, sesuai petunjuk penduduk yang katanya bisa dicapai sekitar 4-5 jam. Baru jalan 1 jam-an, perjalanan melambat. Triwina yang terlihat macho dengan carriernya, berhenti setiap 3 langkah, tarik nafas sekitar 5 menit. Begitu seterusnya. Setengah perjalanan, hari mulai gelap. Tak tahan dengan istirahatnya Triwina, aku berinisiatif membawakan carriernya, agar perjalanan menjadi lebih cepat. Begitu lepas carrier dan tarik nafas sebentar, Triwina langsung ngacir di depan, meninggalkan aku, Aji dan Indra di belakang, yang sedari tadi menemaninya. Giliran aku yang kembang kempis bawa dua carrier dan 1 daypack. Usut punya usut, Triwina sudah jauh meninggalkan kita bertiga di belakang, mungkin sekitar jarak 15 menit pendakian. Kurang ajar........ ”Win..... balik...!!!!”, teriakku. Setelah aku berhasil menyusulnya, kuserahkan carriernya dengan senang hati dengan nafas cepat dan pendek, hos.....hos....hos.....
Ranu kumbolo adalah danau yang terletak di ketinggian sekitar 2000-an mdpl, kalo nggak salah. Terdapat sebuah pemondokan dari kayu plus teras dan ruangan dalam untuk istirahat. Cuma kan nggak macho kalo tidur di pondokan, jadi kami tetep membuka tenda di pinggir danau. Saat kami datang satu rombongan dari Jakarta bersiap menuju puncak. Hai-hai sedikit, mereka cabut dengan gagah perkasa. The most exciting camping ground i’ve ever know.
Esok pagi, perjalanan siap dimulai. Bagi logistik, tenda, matras, beras, mie, ikan asin, sarden, pesta puncak, lilin sampai korek. Bagi setiap lelaki dapat jatah tambahan air minimal 5 liter, pake jerigen atau botol minuman mineral, terserah. Masih dengan heroismenya, kami saling mengecek carrier untuk memastikan beban terbagi rata. Giliran carrier Wiwid ”klepon” diperiksa. Dari luar carrier 70 liternya terlihat penuh dan berat, sampai beberapa barang diikat di luar. Ternyata eh ternyata, jerigen air yang dia masukkan ke dalam carrier masih kosong, tanpa air. ”Bongkar.........”, teriak kami semua. ”Hahahaha........konangan”, kata Wiwid.
Tanjakan cinta, Oro-Oro Ombo, Cemoro Kandang, Kali Mati, Arcopodo. Di tempat terakhir ini kami buka tenda lagi. Arcopodo mirip kuburan, di sana sini banyak plakat in memoriam, bikin kami merinding. Kalo tar malem ada yang datang ke tenda dan kasih tahu jalannya gimana ya ???? Hiii.....mending tidur ngimpi pacaran sama Desi Ratnasari. Jam 5 pagi, kalo gak salah Ari membangunkan kami untuk segera menuju puncak. ”Bawa daypack, air sama pesta puncak aja”, gitu katanya. Perjalanan serasa melayang, cepet banget, Cuma sekitar 45 menit. Tiba-tiba bum....dibelakang kami kawah Jonggring Saloka mengeluarkan asapnya, samar-samar terlihat dari balik kabut. ”Pesta puncak......”, kata kami. Jam 9 kami kembali ke tenda, beres-beres dan kembali ke Ranu Kumbolo. Rombongan dari Jakarta sudah mendahului kami turun sewaktu kami baru tiba di Arcopodo kemarin sore.
Hujan rintik-rintik selama perjalanan. Belum selesai beres-beres, aku mengeluarkan pancing, menyalurkan hobi. Waktu menunjukkan pukul 15.00. Kulempar tali pancing ke tengah di dua tempat sekaligus. Sore itu kami bersantai , tiduran di matras menghadap ke danau. Dunia terasa begitu tenang dan nyaman, kenyamanan yang tidak ingin kami lewatkan, bahkan untuk Desi Ratnasari. ”Mandi yuk”, ajak Ari. Ciat.......byur... Aku, Roni, Indra, Adi, Yaya dan Ari. Setelah mandi dan keramas, badan terasa segar bugar. Tiba-tiba kepala kami terasa pusing yang amat sangat. Dipegang, dielus-elus, dijambak tetep aja kerasa pusing. Ternyata rasa dingin yang menyengat dan tipisnya oksigen membuat kami merasa pusing. Obatnya ya tidur, merem walaupun cuma sebentar.
Sekitar pukul 17.00, kabut tebal turun, seperti gerimis. Aku keluar dari tenda setelah merasa agak baik dengan kepalaku, bermaksud memeriksa pancing yang kupasang, salah satunya disambar ikan, seukuran 5 jari orang dewasa. Dimasak orek-orek campur sayur, tak terasa ikan sedikitpun karena terlalu sedikit. Saat menyisir pinggir danau, ikan-ikan berenang ke pinggir, mencari air yang lebih hangat. Seandainya membawa jaring, bisa dapet ikan banyak, seandainya. Kegiatan malam itu lebih banyak dihabiskan bersenang-senang, camping critanya. Para wanita menyiapkan makan malam mewah ala Rina, yang tadi sore mendapat ransum sisa rombongan dari Jakarta hasil barter dengan nomor telpon Triwina yang belum terdaftar. Para laki-laki menyiapkan tenda, perapian, cuci piring, bikin jemuran. Lagi-lagi Triwina, telor yang telah dipegangnya lebih dari 15 menit yang lalu masih saja diputar-putar. ”Win...telornya”, kata juru masak. Tak ada sahutan, diam. Juru masak menoleh ke arah Triwina dan melihat telor yang dipegangnya masih utuh, berputar-putar di tangannya. ”Gimana caranya buka telor sih.....??”, kata Triwina. ”Hua.....ha....ha...”, serentak kami tertawa terpingkal-pingkal. Selepas malam, gerimis turun lagi, mematikan api unggun kami.
Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru hari ini cerah berawan, begitu laporan BMG (Barkah Meteorologi dan Geofisika), hari terakhir perjalanan trek Bromo-Semeru. Terlihat air danau Ranu Kumbolo melambaikan tangannya, ”Selamat bobok empuk sayang, come back and visit us next time”, begitu kami menggambarkan suasana ketika meninggalkannya. ”I’ll be back”, balas kami. Hanya sesekali kami merasakan panasnya padang pasir gunung Bromo. Sementara angin berhembus dengan bersahabat. Kali ini Triwina dilepaskan terlebih dahulu agar tidak tertinggal jauh di belakang, lagi. Nggak tahunya, kalo melewati jalur datar, langsung ngebut bareng Arif. Tertinggal di belakang justru Astarina yang terlihat mulai kesal karena nama angkatan ASA diplesetkan menjadi Angkatan Salah Asuhan. Asta......oh......rina. Udara malam kawasan gunung Bromo tidak sedingin seperti cerita banyak orang, satu buah sleeping bag digelar untuk selimut bareng-bareng. Hingga pukul 04.30 Ari membangunkan kami untuk melihat panorama matahari terbit dari atas puncak Bromo. Aku masih tetap setia dengan tenda dan selimutku. Tak lama, suara kaki kuda menghampiri tenda, aku kira penduduk hendak menawarkan wisata kudanya. Pintu tenda kubuka perlahan, lagi-lagi terlihat Triwina turun dari kuda sambil memberikan beberapa puluh ribu kepada pemilik kuda. ”Makasih ya pak”, sambil tersenyum. Yang aku ingat selama beberapa kali perjalanan dengan Triwina adalah beberapa tingkahnya yang asyik. Kalo nggak diajak ngomong, jadi pendiam abis, setelah diajak ngomong baru ketahuan aslinya, lucu juga anak ini, kataku dalam hati. Seperti ketika menjadi tim darat gladimadya Lariang 1999, di salah satu desa dalam perjalanannya dan pesta ikan bakar pasar Palu, dia menghabiskan porsi makan melebihi porsinya Londo, 3 piring nasi, 2 ekor ikan bakar jumbo dan sekitar 3 gelas air minum. Luar biasa.
Arung Jeram, mister ???
Ingatanku kembali ke peristiwa ketika diajak mas Farid membawa tamu dari Swedia menyusuri sungai Serayu, menggunakan perahu Lingsang merahnya. Bersama Ananta ”Bebe” Yudiarso, kami memperagakan perintah, left paddle, ringht paddle dan back paddle. Istilah yang mendadak kami terjemahkan dari bahasa gaul Mapagama rafter mania. Berbeda dengan tamu lokal yang hanya membawa baju ganti, mereka dengan santainya membawa handycam, camera SLR panjang plus peralatan arung jeram pribadi standar. Selidik punya selidik, mereka beberapa kali mengarungi sungai di wilayah eropa timur. Oopps…. jadi minder.
Naik Gunung kok Kotor....
Perjalanan di hutan paling menyenangkan buatku kalo mengajak Rina ”Glondongan”, terutama lereng Merapi yang menjadi
Gantengnya Pendampingku
Gladimula XVI aku didapuk jadi pendamping peran jahat, katanya wajah plus rambut gondrongku sangar. Angkatan Racun adalah pengalaman pertamaku menjadi pendamping. Bareng Yayak di navigasi, karena ilmu peta kompasku yang jeblok, namun perkasa. Bertolak belakang dengan Yaya. Bersama Edi ”behong” Mukhtar disesi survival. Malam pertama peserta aku bawa ke punggungan sebelah barat bukit Kendil melalui jalur atas gua Jepang. Londo dan rombongannya nge-camp di bawah puncak Kendil bergerak ke arah timur. Agar tidak bertemu, kami bergerak mengarah ke bawah menuruni lembah. Satu per satu peserta dikenalkan pada tanaman survival, begonia, palem, pakis beserta daunnya, pucuk daun rumput. Tak lupa, siapkan parang di tangan kanan dan kecap di tangan kiri. Kalo sewaktu-waktu ketemu hewan, apapun, langsung sikat. Yang penting bisa survive. Hingga akhirnya aku bilang ke Edi, bahwa talas hutan juga bisa dimakan. Begitu pengetahuan yang aku dapat dari mas Cecep waktu gladimula. ”Ah moso....”, kata Edi. ”Coba aja” timpalku. Tanpa mengindahkan kaidah teori survival, Edi langsung menggigit buah talas yang dicungkil dengan pisaunya. ” hah....panas, perih, asu tenan ngapusi kowe....”, dengan marah Edi membentakku. Dari dalam mulut dan hidungnya terus menerus keluar lendir seperti ingus. ”Aku keracunan, kah”, kata Edi. Beberapa botol air sungai gua jepang sudah ditelannya, namun tak juga menghilangkan rasa panas dan perih di mulut dan hidungnya. Karena panik, aku bergegas lari di ke depan mencari jalur untuk turun ke basecamp, yang lain tergopoh-gopoh mengikutiku dari belakang. Wah, tengsin sama peserta nih. Masa pendamping keracunan, ra hebat. Sesampainya di Bak Air, kurelakan kepulangan Edi ke basecamp Bebeng. Aku menyuruh peserta mendirikan bivak disekitarnya. Waduh, baru sekali jadi pendamping kok sendiri, kalo tiba-tiba bekal makanku dirampok peserta, piye..... nggak mau lebih turun derajat sebagai pendamping, aku mendatangi bivak peserta dan pura-pura menanyakan keadaan mereka. ”udah disiapin makan malamnya belum ?” tanyaku. Sambil tersenyum kecut Akbar menjawab ”Belum mas, masih nyiapin tenda” katanya. Tenda apa......??? bivak kok tenda. Kuangkat kakiku masuk ke dalam tenda. Kunyalakan HT dan mencoba kontak dengan tim lain, tak lupa kontak basecamp minta tambahan personil untuk nemenin aku. Setengah jam kemudian, Adi ”Lombok” berteriak ole....ole...
Untuk kedua kalinya sebagai pendamping yang panik adalah ketika menyuruh peserta Gladimula XVII Bhezet latihan self rescue di sungai Progo, rute standar gladimula. Tidak seperti yang lain, menyuruh peserta turun di air tenang, aku justru menyuruh ke enam peserta turun ke jeram betulan, kelas II. Panjang jeram hanya sekitar 30 meter, tapi karena pengalaman pertama, 2 orang peserta terseret ke arah kanan sungai, masuk jeram dan terseret Eddies. Tiba-tiba terbentuk Boils besar, dua orang peserta terseret ke bawah, tenggelam. Kuperintahkan perahu di belakang, Arif ”pak sukri”, untuk menyusul peserta yang hampir kehabisan tenaga. Slamet......slamet..... 4 orang lain yang terseret ke kiri, tak kalah keras berteriak minta tolong. Dari kejauhan yang terdengar ”tolooomm......tolooomm......”, tentunya sambil menengguk air sungai Progo. Aku pikir, jalur sebelah kiri aman, jadi kubiarkan saja mereka menikmati jeram pertamanya. Selepas jeram perahu ke pinggir. Satu orang peserta ketakutan sambil meringkukkan badannya di atas perahu. Aku mencoba menenangkannya, tapi sia-sia. Rupanya ketakutan itu sudah amat sangat. ”Masih berani dayung nggak ?” tanyaku. Tak bersuara, tapi peserta itu, aku lupa namanya, menggeleng-gelengkan kepala. Aku suruh dia duduk di tengah perahu sambil berpegangan tali. Anoen, peserta lainnya yang juga ketakutan, masih cukup berani memegang dayung. Unextraordinary woman.
Mati Tenggelam Ala MAPAGAMA
Arung jeram merupakan divisi favoritku, hampir setiap minggu aku menyempatkan diri membawa perahu merah atau kuning bermain-main di sungai. Pada kesempatan lain, aku turun bareng temen-temen Mapala lain atau operator sekitar Elo. Eksplorasi sungai, itu yang terlintas di kepalaku. Cukup jenuh juga melalui jalur Elo, Progo dan Serayu. Bersama Aye yang nenek moyangnya dari Banjarnegara, aku mempelajari sungai Pekacangan dari peta. Aku masih ingat, ketika pertama kali belajar berenang, di sungai Pekacangan, persis di bawah dam tempat aku mengalami kecelakaan. Kebetulan kelas IV dan V sekolah dasar-ku berada tepat di pinggir sungai Pekacangan, desa Bondolharjo, kecamatan Punggelan. Sungai yang berhulu di kecamatan Karangkobar, mengalir hingga kabupaten Banyumas. Kontur wilayahnya yang bergunung-gunung sangat potensial membentuk jeram. Hampir sebulan kami merencanakan perjalanan ini. Aku, Aye, Wahju, Yayak, Toni dan Karrina. Tanda-tanda akan terjadi musibah bisa kurangkai setelah berlalu beberapa hari. Pertama, yang namanya cari mobil untuk perjalanan Yogyakarta-Banjarnegara susahnya setengah mati, yang didapatkan kijang super warna abu-abu. Kedua, pada perjalanan menuju Banjarnegara, berangkat sekitar jam 12.00 malam, roda belakang kanan tiba-tiba bocor di Magelang. Perjalanan dilanjutkan menggunakan ban serep. Ketiga, selepas dari Magelang, mulut ini gak bisa yang namanya diem. Kalo gak crewet gojek ya nyanyi, seadanya, dari dangdut, pop, rock sampai lagu yang tidak aku sukai juga mengalun dengan merdu. Yang lain....???? Groookkk....groookkk.... tidur pulas, hanya Wahju the driver yang setia mendengarkanku. Sesampainya di kota Banjarnegara, mobil berhenti, sebagian makan srabi, sebagian mencari rokok di warung yang masih buka, waktu itu kira-kira pukul 4.30 pagi. Tak cukup puas dengan srabi, perjalanan dilanjutkan menuju kecamatan Wanadadi. Berhenti di pusat keramaian, pasar. Tanya kiri kanan, kami temukan penjual nasi dorongan dengan sayur oseng-oseng dan lauk mendoan. ”Lumayan mas, bisa buat oyag-oyag perut”, kata penjualnya. Satu bungkus terasa kurang, bungkus kedua meneruskannya. Kamipun bergegas menuju desa tujuan, entry point. Penduduk desa dari anak kecil hingga orang tua terkagum-kagum dengan perahu yang kami bawa. ”Bisa ditumpaki mas ?” tanya mereka. ”Arung jeram itu apa mas ?”, masih dengan logat ngapak-ngapak ala pinggiran Banjarnegara.
Anggota tim membentuk lingkaran, telapak tangan disatukan ”Viva Mapagama, so....so....so....”. Perahu diangkat ke atas pundak, perlahan-lahan diturunkan ke sungai. Arus utama berbelok ke bahu kiri sungai, membentuk jeram kelas III, panjang jeram sekitar 50 meter. Persis di atasnya terdapat jeram dengan kelas yang sama. Selepas jeram, edies panjang sampai ke dam. Aku duduk di depan aye, sebelah kiriku Karrina, didepanku Yayak dan sebelah kiri depan Toni. Komposisi untuk menyeimbangkan kekuatan dayungan. Kalo lolos melewati dam, wahju duduk bersebelahan dengan Aye, konfigurasi double skeeper. Sekilas dari atas, tinggi dam sekitar 2 meter, ketinggian yang aman untuk dilewati, walaupun dengan resiko terseret arus balik. Wahju siap siaga berdiri di pinggir sungai lengkap dengan kamera dan throwing bag. Skenario yang kami buat, mendayung kuat, setelah masuk jeram semua dalam posisi Bum. Dari jauh aku sudah mulai mendayung, walaupun aba-aba dari Aye sebagai skeeper, belum ada. Aku pikir, kalo perahu melaju cepat, arus balik dapat dilewati. Semakin dekat dam, perasaanku semakin tidak karuan. Dayung aku celupkan semakin dalam, ditarik pelan-pelan. Persis di depan mulut dam, aye memulai aba-aba dayung. Ujung perahu masuk dam, Aye memberi aba-aba Bum. Semua melempar badannya ke dalam perahu, kecuali aku. Dayung masih aku tancapkan kuat-kuat. Perahu meluncur cepat ke bawah, badanku seperti ditarik ke belakang, mencari keseimbangan. Tiba-tiba badanku seperti didorong dengan kuat dari belakang dengan cepat. Aku terlempar, masuk ke pusaran air, byuurrrr...!!! Di dalam air, semua terlihat gelap, akupun berusaha naik ke atas. Sampai di permukaan, aku menarik nafas panjang, sesekali melihat sekeliling mencari posisi perahu. Belum dapat kuraih perahu, aku tertarik arus ke bawah lagi. Untuk ke sekian kalinya, aku berusaha berenang ke bawah mengikuti arus. Aku lupa berapa kali keluar masuk pusaran air termasuk berapa liter air sungai yang sudah ku minum. Yang kurasakan, nafasku semakin pendek dan berat. Sadar dengan kondisi ini, aku menarik nafas sekuatnya, berenang ke dasar sungai, mencari arus bawah, mengikutinya, kemudian berenang kembali ke atas. Dasar sungai berhasil kucapai, sambil memegang benda menyerupai kawat atau pohon bambu, aku mengikutinya, ke bawah.
”Tarik....tarik.....”, lamat-lamat kudengar suara, entah siapa dan dari mana. Badanku terasa terguncang-guncang. Suara gaduh seperti pasar, saling berteriak, menyahut, memberi perintah. Sesaat kemudian kesadaranku mulai muncul. Suara mesin mobil, guncangan keras dan hoak......hoak..... aku muntah. Dalam kesetengahsadaranku, kulihat warna hitam dan coklat keluar dari mulutku, beberapa kali. Kesadaranku bertambah. Aku mulai mengerti kalau sekarang berada di rumah sakit, tapi entah dimana. Tiba-tiba ada selang panjang masuk ke mulutku, melewati tenggorokan dan hoak.....hoak.....aku muntah lagi, tidak sebanyak sebelumnya, tapi masih berwarna hitam dan coklat. Aku menengok ke arah pundakku, kurasakan ada yang memasuki tubuhku lewat tangan, jarum suntik. Aku merasa kepalaku sangat pening, detak jantungku bergerak sangat cepat, sekujur badanku lemas, perut mual dan rasa perih diantara hidung dan mulut hingga tenggorokan. Bahkan untuk menggerakkan badan pun rasanya nggak mampu. Aku hanya pasrah, bingung, mencoba merangkai hal selain menyadari baru saja tenggelam. Dokter bilang, beruntung aku berhasil diselamatkan dengan cepat, beberapa saat terlambat mungkin tewas. Cairan yang dimasukkan ke tubuhku ternyata adrenalin. Fungsinya memompa jantung, agar darah bergerak lebih cepat. Beliau cerita, beberapa tahun yang lalu adiknya, anggota Mapala juga, mengalami kejadian serupa di salah satu sungai di wilayah Jawa Barat. Setelah kesadaranku pulih, aku meminta tim menghubungi ibuku di Sokaraja. Beberapa jam kemudian, ibu membawaku ke rumah sakit Banyumas.
Tak hanya berhenti di situ, setiap kali mendengar atau melihat yang namanya air, ketakutanku muncul lagi, amat sangat. Selama sekitar seminggu, aku mandi menggunakan kain basah, sibin, buang air kecil sambil merem. Minum pun menggunakan sedotan, merem juga.
To be continued........