Senin, 24 Maret 2008

Mapagama Family Trip (Route I)





Awan di atas langit terlihat mulai terlihat gelap. Dari sisi timur, angin bergerak pelan membawa gumpalan uap air, semakin lama semakin berwarna hitam. Dedaunan pohon mangga di depan bengkel bergoyang, sepertinya akan terjadi hujan. Angin tidak terlalu besar, cukuplah menyegarkan udara yang mulai terasa gerah. Menyegarkan tanah yang sedari pagi terkena terik matahari.

"Karepku medun awan ya mergo ngenteni udan", kataku kepada wahju.
"Hooh, dilit neh paling udan", kata wahju.
(keinginanku arung jeram siang hari supaya pas dengan waktu hujan)
(Iya, sebentar lagi hujan)

Kami membicarakannya di depan bengkel sambil sesekali menengadahkan wajah ke atas, memeriksa keadaan. Hujan di Jogja seringkali terjadi dari siang sampai sore hari, terkadang hingga malam, sesekali. Harapanku, saat hujan turun debit air kali Kuning yang mengalir dari merapi hingga Bantul akan bertambah, biar lebih asyik, menurutku. Kami menyebut kali Kuning itu dengan nama sungai/kali Babarsari. Kebetulan sungai itu memang melewati wilayah Babarsari.

Aku, dua orang anakku, sidik, wahju dan agus sebagai dokumentator, sedang bersiap melakukan pengarungan kali Babarsari. Rute yang kami tempuh dari sebelah kantor pajak ringroad utara hingga kolam pemancingan Banyu Mili, berjarak sekitar 2 km. Dua buah inflatable kayak, single dan double, telah siap di atas mobil wahju. Empat buah pelampung, 2 dayung double blade dan 2 buah dayung biasa juga turut masuk ke bagian belakang mobil, bercampur dengan perkakas kerja milik wahju.

Perjalanan tidak segera dilakukan, menunggu api pembakaran sisa sampah yang mengecil. Sampah disamping bengkel menumpuk setelah "rongsokan" mobil lama terjual. Kebetulan ini menjadi kesempatan untuk mengurangi jumlah rumput yang mulai meninggi yang sebelumnya tertutup mobil yang sempat teronggok lebih dari 3 tahun. Sebagai penyulut, daun mangga kering dan ranting-ranting yang patah disiram dengan minyak tanah. Aku sendiri datang setelah tumpukan sampah itu menyalakan api. Asapnya mengepul tebal, putih, terbawa angin ke barat.

Arung jeram, kalau oleh dikatakan begitu, merupakan hobiku sejak lama. Dunia ini aku kenal sejak tahun 1998, sejak aku masuk jadi anggota Mapagama, sejak Gladimula (organisasi lain menyebutnya Diklatsar) bulan Februari 1998, sejak aku mengenal dunia petualangan, sejak andrenalin ini selalu memuncak, sejak imajinasiku menjadi petualang muncul, sejak umur 23 tahun. Ya, sejak itu.... sejak pertama kali mendayung di selokan Mataram dan sungai Progo. Dulu, dengan keterbatasan arus informasi yang ada, aku hanya mengenal pendakian gunung (mountaineering) dan panjat tebing (Rock Climbing). Namun sekarang, dengan arus informasi yang semakin canggih, berbagai macam petualangan baru muncul dan mulai digeluti serta digemari, macam sandboarding, snowboarding, bodyboarding, waterfall climbing, extreme kayaking, yang dulu notabene hanya milik beberapa orang di luar negri sana.

Hobi yang sempat aku geluti dengan serius, perlahan aku kenalkan kepada anakku. Anakku yang pertama, Arkan, tentu saja yang lebih dulu mengenal, sekitar tahun 2004 di sungai Elo, Magelang, waktu itu ia berumur 5 tahun. Menggunakan riverboat, pinjaman dari pihak Djarum Super kantor Yogyakarta, kami ber-enam termasuk istriku mencoba goyangan jeram sungai Elo. Kini, tiga orang anakku, laki-laki semua, arkan (7 tahun), rayhan (4,5 tahun) dan attar (3,5 tahun), kukenalkan dengan aktifitas yang dulu kulakukan hampir setiap hari sabtu - minggu. Sungai Babarsari tidak memungkinkan digunakannya riverboat, karena kedalaman airnya. Namun aku rasa cukup kalo hanya untuk mengenalkan kegiatan ini pada anak-anak. Disamping itu, keinginanku mengenalkan aktifitas ini ke anakku, aku mulai dari yang paling ringan, tingkat bahaya terendah.

Mobil bergerak perlahan, hanya berjalan sekitar 5 menit, mungkin kurang. Kebetulan jarak dari bengkel ke sungai babarsari memang dekat, hanya sekitar 200 meter. Kami semua turun. Kayak pertama kali di turunkan, berikut pelampung dan dayung. Untuk langsung menuju sungai dari bagian belakang mobil tidak memungkinkan, sangat curam dan tidak ada jalan menurun. Kami memutar ke kanan, menyusuri selokan kecil, berbelok ke kiri memasuki kebun yang langsung berhadapan dengan sungai. Beberapa aliran air kecil kami jumpai, bocoran dari selokan di atas. Aku sendiri membawa kayak single beserta pelampung, sidik dan agus memanggul kayak double. Wahju dibelakang, menuntun 2 anakku sambil mengapit dayung di tangan kanannya. Perahu aku turunkan langsung ke sungai dan kuikatkan tali anchor (tali penambat kayak) ke tonggak bambu di pinggir sungai. Kulihat bagian atas sungai. Arus air dipecah dua, masuk ke dalam terowongan besar. Dua buah terowongan yang merupakan "jembatan" ringroad. Air mengalir deras, di akhir terowongan air membentuk riak-riak kecil. "Bagian situ dalem, lebih dari sepinggang", begitu kata sidik. Aku bergegas naik ke atas menyusul wahju dan 2 anakku. Ternyata wahju telah sampai di ujung selokan, persis jalan setapak kecil yang menurun ke arah sungai. Aku lihat dia menggendong salah seorang anakku.

"Aku nggak bisa....", tiru wahju dengan rengekan rayhan.
"Ayo turun.....jalan aja, ayah gandeng", kataku.
"Tapi aku nggak bisa.....", rengek rayhan lagi.
"Hehehehe.....", kudengar senyuman wahju di belakang.

Kutuntun tangan rayhan menuruni jalan tanah berpasir ke bawah sambil memanggul dayung, arkan kubiarkan berjalan ke bawah sendiri.

to be continued.....
mau kerja...

lanjut maning......

"Aku rasah medun wae, lagi standby, keponakanku loro, meh di gawa neng rumah sakit", kata wahju.
"Kowe sisan wae gus ", pintaku, tapi agus menggeleng
"Aku tak moto wae ", katanya.
(Aku nggak usah ikut ngarung, sedang standby, keponakanku sakit, mau dibawa ke rumah sakit)
(kamu sekalian aja gus)
(Aku jadi tukang foto saja)

Aku dan rayhan menggunakan kayak single, sementara sidik dan arkan menggunakan yang double. Pertimbangan utamanya tentu saja ukuran berat badan. Arkan walaupun berumur 7 tahun namun berat badannya mencapai 40 kg. Padahal aku, ayahnya, hanya memiliki berat badan 55 kg, rayhan hanya sekitar 18 kg.

Entry point berupa penggabungan dua arus dari terowongan. Arus sungai berbelok ke kanan menjadi satu, bukan jeram menurutku, tapi cukuplah untuk pemanasan 2 anakku. Kalo dibilang jeram, mungkin hanya kelas 1 yang ingin naik ke kelas 2. Panjangnya hanya sekitar 30 meter. Sidik duduk di belakang memegang dayung double blade (dayung panjang yang memiliki dua buah blade/sirip), dan arkan di depan memegang dayung carlisle (merek dayung). Sebelum pengarungan sidik mengarahkan perahunya menyeberang sungai. Terlihat pelampung yang digunakan arkan kebesaran. Pelampung yang seharusnya digunakan orang dewasa. Terlihat dia agak kesulitan menundukkan kepalanya, dagunya terganjal bagian depan pelampung. Sementara itu rayhan kusuruh duduk didepan dengan posisi kaki terlipat ke belakang sambil berpegangan tali anchor. Mereka berdua, arkan dan rayhan, sangat antusias memulai pengarungan ini. "Ayo yah..!!!", kata rayhan segera setelah menaiki kayak. Ini adalah pengarungan keduanya setelah 3 minggu yang lalu kami melakukan pengarungan di sungai yang sama, dengan rute berbeda. Perahu pertama yang dinaiki sidik dan arkan masuk terlebih dahulu. V-Wave (lidah jeram) disebelah kiri, berbelok ke kanan, tercipta riak-riak kecil. Arkan berteriak kegirangan sambil terus mengayuhkan dayungnya. Perahu kedua yang berisi aku dan rayhan masuk menyusul dengan jalur yang sama, mulus, smooth. Arus sungai berbelok ke kiri lagi dengan riak-riak kecil. Kondisi jeram di bawah tidak terlihat karena sungai kembali berbelok ke kanan.

10 menit kemudian, melintang bambu yang diikat dengan kawat dan tonggak di tengah. Penduduk setempat menggunakan bambu sebagai sarana untuk mengalirkan air dari mata air yang lebih tinggi ke sawah mereka. Kebetulan sungai babarsari berada lebih rendah dibandingkan dengan sawah di daerah tersebut, kecuali dibagian bawah dimana ketinggian air dan sawahnya sama. Sawah di sekitar sungai babarsari sebenarnya merupakan badan sungai, dimana air yang mengalir terus-menerus berubah arah. Bagian sungai yang mengering dimanfaatkan oleh penduduk sekitar untuk bercocok tanam. Tidak hanya sawah, namun berbagai macam tanaman juga tumbuh, termasuk juga palawija. Disekitar jembatan babarsari malah dijumpai beberapa gubuk yang digunakan petani untuk menunggui pertanian dan perkebunan mereka. Resikonya, bila sungai banjir, pertanian mereka otomatis terendam, dan hal itu sering terjadi saat musim penghujan seperti sekarang. Untuk menghindarinya, kami merebahkan badan ke belakang. Tak lama kemudian, rintik hujan turun, gerimis.

Tak lebih dari setengah jam, kami sampai di jembatan babarsari. Jembatan yang sangat bersejarah, tidak hanya dalam sejarah perkembangan pertanian Yogyakarta, namun juga bagi kalangan pencinta alam di Yogyakarta. Bagi dunia pertanian, jembatan ini menjadi penghubung Selokan Mataram yang dibangun pada jaman Sri Sultan hamengkubuwono IX, jaman belanda dulu. Selokan Mataram yang berhulu di sungai Progo dan bermuara di sekitar kecamatan Brebah, menjadi sarana penting bagi pengairan pertanian di Yogyakarta. Bagi beberapa orang juga dimanfaatkan untuk perikanan. Namun seringnya penutupan saluran itu hingga kering menjadikan usaha perikanan tidak berjalan, berhenti sama sekali. Hal ini juga pengaruh dari surutnya debit air sungai Progo. Sementara di dunia kepencintaalaman, jembatan Babarsari dipakai untuk berlatih. Terdapat 2 buah jembatan penghubung. Sebelah selatan digunakan untuk menghubungkan jalan. Sisi kanan kiri tiang penyangga terdiri dari tonjolan batu pondasi setinggi ± 5 meter. Sisi-sisi inilah yang digunakan untuk berlatih panjat tebing. Tingkat kesulitannya bervariasi, dari intermediate hingga level advance. Sedangkan sebelah utara untuk menyambungkan selokan Mataram, namun juga berfungsi sebagai jembatan. Tinggi jembatan hingga mencapai sungai sekitar 25 meter. Ketinggian ini yang dimanfaatkan untuk berlatih tehnik SRT (single rope technique), tehnik penelusuran gua vertikal. Setiap hari sabtu dan minggu, tempat ini dipenuhi penggiat petualangan. Latihan rutin dan pelatihan antar organisasi pencinta alam. Termasuk Mapagama dalam hal ini juga menggunakannya.

Sebelum melewati jembatan Babarsari, jeram kelas 2 mengalir cukup panjang, lebih dari 50 meter. Air cukup dangkal, banyak Pillow (batuan yang tertutup air, sehingga hanya menyerupai gundukan) di depan sepanjang kiri, kanan dan tengah. Arus mengalir lurus. Di tengah jeram, sungai berbelok ke kanan, membentuk riam kecil, namun pillow dan stainer (rintangan yang bukan benda alami sungai, misalnya kayu) banyak dijumpai di tengahnya. Di akhir jeram, standing wave (komponen jeram menyerupai ombak) terbesar pecah menjadi 2, memecah mainstream ke kiri dan ke kanan. Salah ambil manuver, kayak bisa terjebak, wrap (perahu/kayak terjebak, tidak bisa bergerak). Kayak-ku, yang berubah menjadi leader, kudayung ke kiri dan ke kanan, sesekali blok (tehnik dayungan), untuk mengarahkan ksysk menghindari batuan.

"Yah...kita kan pernah ke sini", kata Rayhan memastikan.
"Iya, dulu waktu pertama kali kita arung jeram di sini", jawabku mengiyakan. "Pegangan yang kuat", lanjutku.
Yi.....haaaa.....", teriakku menyemangati Rayhan sesaat setelah kayak memasuki jeram.

Kayak masuk lurus, namun karena dangkalnya sungai, terkadang kami terjebak bebatuan di bawah, membuat kayak berubah arah. Segera aku mengarahkan kayak lagi. Memasuki bends (belokan sungai), perahu kumiringkan ke arah kanan dengan tetap mendayung blok, untuk menjaga arah kayak tetap diposisi 45 derajat. Sebelum kayak menabrak batu pinggir sungai dengan keras, aku melakukan dayungan kuat agar tetap dapat mengikuti mainstream (arus utama), mulus. Jarak antar batu dan pillow memang sangat dekat, hanya berjarak sekitar 2 buah kayak. Belum lagi kendali arah kayak smooth, di depan terdapat batu cukup besar di sebelah kanan yang memecah mainstream. Di bawahnya lagi, akhir jeram, mainstream menabrak batu tinggi. Dayung kanan aku ambil kuat, kayak sedikit bergeser ke kiri. Pandanganku terus melihat bawah, mengamati arah kayak dan arus sambil terus mengawasi posisi duduk Rayhan. Rasa khawatir menyergapku ketika menyadari kalau Rayhan dapat terjatuh. Segera aku koreksi lagi dengan dayung kiri, ujung kayak pun bergeser ke kanan, tetap dengan kewaspadaan. Kayak bergerak mulus keluar jeram. Rayhan berteriak kegirangan, "Waaaaa....". Kayak segera aku arahkan ke kiri untuk menepi. Kulihat Sidik sedikit mengalami kesulitan melewati jeram barusan. Ujung kayak menabrak beberapa batu, membuat arah kayak seperti bola pinball.
"Asyik yah......lagi ya", kata rayhan. Terlihat kegembiraan di wajah anakku, tidak sabar untuk segera melanjutkan pengarungan.
"Iya, tunggu temen ayah dulu", jawabku. "Nanti di bawah kita ngintir ya....?!!"
"Iya....iya....aku mau..!!", timpal Arkan. "Kalo libur panjang, arung jeram lagi ya...??!!", pinta Arkan tidak sabar.

Aku selalu mencoba membuat pendidikan alternatif untuk anakku, pelajaran yang tidak didapatkannya di sekolah. Tapi dasar darah petualanganku, seringkali saat libur beberapa hari, aku ajak mereka mengenal dunia yang hingga sekarang masih aku gemari, petualangan. Namun pastilah dengan porsi untuk anak-anakku. Pendidikan lingkungan !!! itu intinya. Aku coba kenalkan kepada mereka, tentang berbagai macam lingkungan yang ada disekitar kita. Pernah beberapa waktu lalu, saat liburan panjang sekolah, aku ajak keluargaku camping di hulu Kali Kuning, persisnya sedikit di atas dam Plunyon. Hanya 2 hari 1 malam, sabtu - minggu. Aku dan istriku mengenalkan sedikit pengetahuan yang kami miliki. Dari air, tanaman, habitat, ekologi, keanekaragaman hayati dan konservasi. Hubungan sebab akibat tindakan kita terhadap alam, lingkungan. Misi utamanya tentu saja mengajarkan kemandirian. Dengan hidup di alam bebas, mereka aku ajarkan untuk melakukan segala sesuatunya sendiri, tentu saja sesuai dengan kapasitas anak-anak. Dalam proses ini mereka dapat bermain di alam bebas dengan berbagai macam isinya. Sungai, batu, air, tanaman, udara, iklim, cuaca. Kebetulan Arkan cenderung mengidap asma, begitu vonis dokter. Jadi hitung - hitung sekaligus terapi untuk kesehatannya. Arung jeram bagi Arkan adalah yang ketiga kalinya, bagi Rayhan untuk kedua kalinya sedangkan Attar baru sekali. 3 minggu sebelumnya, aku mengajak mereka ke sini, arung jeram, namun dengan rute yang lebih pendek, hanya 200 meter ke atas jembatan Babarsari, bolak-balik, bergantian.

Kami berhenti sejenak, menunggu Agus dan Wahju datang untuk mengambil gambar. Tak lebih dari 10 menit mereka datang. Dari atas jembatan Agus segera mengarahkan kameranya ke kami. Jepret....jepret....jepret.... Wahju memberi isyarat untuk bergerak. Perahu ditarik sedikit ke atas. Ditempat kami berhenti tadi, jejeran batu melintang sepanjang badan sungai keeper hole (seluruh atau sebagian besar badan sungai terhalangi, menciptakan arus putar). Saat menyeret perahu, sendal jepit Sidik terlepas. Ditunggu beberapa saat, sendal yang dinanti belum juga muncul.

"Ngopo ? " tanyaku.
"Sandalku copot", kata Sidik. "Kok ora njedul-njedul yo....??? ".
Wis, ilang.... ", kataku. "Ayo medun (Ayo turun)".
Belum sempat perahu meluncur, sandal jepitnya terlihat mengambang.
"Lha kuwi..!!! ", kata Sidik
"Yo ayo dioyak..!!! ", timpalku kemudian
(ada apa ?)
(kok nggak segera muncul ke permukaan ya....???)
(sudahlah, hilang....)
(Lha itu..!!!)
(Ayo segera dikejar..!!!)

Sidik meluncur pertama melewati keeper hole, mulus. Beberapa meter ke bawah, persis di bawah jembatan, kayak menabrak pillow. Kayak miring ke kanan, hampir terbalik. Sejenak aku merasa khawatir kalau Arkan tercebur. Sungai memang tidak dalam, namun bisa dipastikan beberapa teguk air meluncur deras ke perutnya. Sidik segera turun untuk menjaga keseimbangan dan arah kayak sambil tertawa. Sendal yang dikejarnya, sejenak terlupakan. Aku mendahuluinya ke bawah, kayak langsung kuarahkan ke jeram berikutnya. Di depan sebuah pohon sukun di pinggir sungai roboh, melintang sepanjang badan sungai. Segera kayak kutarik ke pinggir. Rayhan aku suruh turun dari kayak.

Di bawah jembatan, sungai terpecah jadi 2. Sebelah kanan menjadi arus utama. Sebagian besar airnya mengalir ke situ. Di sebelah kiri jembatan, awalnya adalah tanggul sawah. Proses abrasi yang berlangsung lama menghancurkan tanggul dan menciptakan sungai kecil. Menerabas beberapa petak sawah yang dilewatinya. Karena sawah berada pada dataran dengan ketinggian sama, petak yang rusak menjadi sangat luas, terutama saat banjir.

"Kenapa berhenti ?" tanya Rayhan kepadaku
"Nungguin kakak sama oom sidik dulu", jawabku ringan.

Beberapa saat aku tunggu, kayak sidik tidak juga terlihat. Aku susuri sungai ke atas memastikan keadaan.
"Tunggu sini, jangan ke tengah, nanti bisa jatuh ke sungai", perintahku ke rayhan
"Ya..", jawab rayhan

Ternyata sidik masih sibuk mencari sandal yang tersangkut di tumpukan sampah.
Setelah didapatkan sandalnya, ia segera mengarahkan perahu ke bawah. Begitu terlihat olehku, sidik aku beri aba-aba untuk ke pinggir.

"Ono strainer....!!! wit sukun ambruk....!!! (ada strainer...!!! pohon sukun roboh...!!!)", teriakku sambil menunjuk pohon sukun di bawah. Setelah di pinggir, kayak kami angkat menuju samping pohon sukun. Sambil aku pegang, arkan aku suruh naik terlebih dahulu. Kayak aku dorong kuat melewati ranting pohon sukun, aku mengikutinya dari belakang. Sungai berbelok ke kiri, terlihat beberapa jeram di bawah menghilang dari pandangan di kelokan itu. Kayak aku dayung perlahan sambil terus melakukan scouting (pengamatan jeram dan penentuan manuver perahu).

nanti berlanjut lagi.....
mau pijet........

Selepas jembatan Babarsari, sesungguhnya jeram yang ada saling sambung menyambung, hanya ada beberapa eddies (arus tenang) relatif pendek. Tidak cukup besar memang bagi kami yang sering melakukan arung jeram. Namun bagi kedua anakku, pengarungan dan hempasan air di wajahnya cukup membuatnya gembira. Selepas strainer pohon sukun, sidik menepikan kayaknya ke pinggir kanan sungai. Dikejauhan terlihat end point pengarungan.

"Ayo yah, kakak di salip", pinta rayhan.
"Oke".
Begitu kami melewati kayak arkan dan sidik, rayhan tertawa, seolah-olah merasa menang karena berhasil mendahului kakaknya.
"Hei....kalian curang, hahahaha....", teriak arkan

Aku mendahuluinya. Sungai berbelok ke kiri menyisir tanggul sawah yang mulai ditumbuhi rumput dan beberapa tanaman kayu. Salah satunya pohon Lereside, begitu orang-orang di Purwokerto menyebutnya. Pohon yang beraroma tidak sedap, sejak kulit, kayu hingga daunnya. Beberapa ujung ranting tampak sudah terpotong, sepertinya dilakukan dengan sengaja menggunakan golok. Arus utama dan jeram melewati bawah pohon tersebut.

"Nanti kalok nglewati pohon itu, badannya dibungkukin ya..?!!", kataku kepada rayhan
"Ya...kayak tadi ya yah ?", tanya rayhan
"Kalo tadi badannya dijatuhin ke belakang, nanti badannya ditundukkin ke depan, ok ??!! aaaa......", perintahku lagi.

Belum sempat aku menutup pembicaraan, kayak sudah menerjang pohon Lereside.

"Nunduk ray....", perintahku ketika kami melewati bawah pohon tersebut.
Rayhan segera membungkukkan badannya ke depan tanpa berani melepas tali anchor. Sesaat kemudian dia tertawa. Kayak aku arahkan ke pinggir, sisi kiri sungai. Anchor ku ikatkan di tonggak bambu. Tak lama, sidik dan arkan menyusul. Di atas kulihat beberapa bagian terbuka seperti bagi kendaraan penambang pasir.

"Yo neng kene iki finishe (Ya di sini kita finish)", kata sidik.

Aku segera menoleh ke kanan dan kiri mengamati sekitar, barangkali menemukan wahju dan agus. Beberapa saat lewat, tak juga kulihat mereka.

"Kak, ayo ngintir…….", ajakku ke arkan.
"Ayo...", dengan riangnya ia menerima ajakanku sambil berlari. Badannya yang besar bergerak ke arahku. Kakinya yang besar memecah air yang dilewatinya. Aku sambut uluran tangannya sambil meraih ujung atas pelampungnya. Perlahan-lahan ia aku ajak ke bagian hulu. Sesekali ia terpeleset batu yang diinjaknya.

"Makanya ayah suruh kamu pake sepatu, untuk melindungi kaki saat di sungai".
"Iya, tapi kenapa ayah pake sendal ?" tanya arkan
"Tapi sandal ayah kan nggak mudah lepas, sandal gunung", jawabku.
Arkan terdiam mendengar penjelasanku. Tampaknya dia lebih tertarik membayangkan ajakan ngintir dariku.

"Badan direbahkan ke belakang, kaki ke depan diangkat ke atas, pandangan tetap ke depan. Kalo ada batu, kaki dipake buat menendang, ngerti ???
"Ngerti...!!!"
"Ayah duluan, entar kamu nyusul di belakang".

Badan kurebahkan ke belakang, kaki ke depan, memberi contoh kepada arkan.
"Ayo....!!!", ajakku

Selepas 20 meter, pantatku menabrak sesuatu, batu.
"Auw.....hahahaha.....". Beberapa saat kemudian arkan mengalami hal yang sama.
"Aow.....pantatku sakit", katanya. Dia berusaha berdiri dengan susah payah. Kuraih pelampung untuk membantunya berdiri.
"Kita coba lagi, ditempat yang lebih dalem", ajakku lagi.

Tak lama kemudian, wahju datang tergopoh-gopoh dari bagian bawah sungai.
"Finish-e neng ngisor meneh (Finishnya masih ke bawah lagi)", katanya dengan segera.

Kami segera bergegas ke kayak. Untuk pertama kalinya rayhan memegang dayung dan mengayunkannya di air. Awalnya ia terlihat keberatan dengan dayungnya, namun tanpa sedikitpun keluhan keluar dari mulutnya, dayungan itu berakhir hingga akhir pengarungan. Sesekali dayungnya bertabrakan dengan dayungku. Pastinya dayung itu terlalu panjang baginya, jarak kedua tangannya ketika memegang dayung hanya sekitar 20 cm dari T-Grip. Namun semangat yang muncul barangkali berpuluh-puluh meter. Sangat berbeda dengan kakaknya yang gendut, beberapa dayungan double blade-nya, terlalu banyak keluhan keluar. Tanganku pegel lah, capek lah, dayungnya berat lah, susah ndayung lah dan lah lah yang lain. Tapi itulah anak kecil, seringkali keluhan terlebih dulu keluar sebelum proses panjang berjalan. Anak-anak tetaplah anak-anak, dengan segala kekanakannya.

Ketegangan melewati beberapa strainer kayu maupun rerimbunan pohon pinggir sungai yang menutupi mainstream, menabrak batu, perahu yang berputar, aba-aba menyamakan irama dayungan, sudah cukup membuat mereka tertawa. Teriakan saat melewati jeram, ekspresi saat air menampar wajahnya, dayungan yang membawanya melewati jeram, cukuplah membuat mereka gembira. Ketegangan di wajahnya kala melihat buih air, ketakutan saat perahu mulai miring, rasa sakit saat tubuhnya terantuk batu, tak cukup membuat mereka kehilangan tawa. Itulah anak-anak, hanya ada kegembiraan dan tawa.

Yogyakarta, 25 Maret 2007.

Tidak ada komentar: