Pada hari kamis, 15 mei lalu, aku dan temanku ke solo, melakukan presentasi wisata outing pukul 09.30 WIB di SD Al Azhar 28 Solobaru. Agar lebih nyaman dalam hal waktu, dan kebetulan ada tumpangan yang searah, kita berangkat pukul 06.30 WIB. "Biar sarapannya lebih nyaman", begitu kata temanku yang memang asli solo. Keberangkatan pagi, dilalui dengan nyaman. Yah....bawa mobil sendiri. Selesai presentasi, pukul 12.00 kami langsung meluncur ke stasiun Balapan Solo. Pramex (Prambanan Express) menjadi alternatif transportasi umum paling murah dan nyaman hingga saat ini untuk tujuan Jogja - Solo. Dengan Rp. 7.000, perjalanan umumnya ditempuh dalam waktu 60 - 75 menit. tersedia tempat duduk memanjang di pinggir. Bagi yang tidak beruntung, DAOP VI Yogyakarta menyediakan tali gantung untuk berpegangan. fasilitas standar moda transportasi umum. Kelebihannya dibandingkan moda transportasi massal lainnya adalah kenyamanan dan kebersihan. Kita tidak akan menjumpai adanya pedagang asongan, pengamen, penyapu dan penawar jasa lainnya, layaknya kereta api kelas ekonomi. Walaupun harga tiketnya masih kelas ekonomi. Untuk jurusan Jogja - Solo kereta berwarna kuning, sedangkan untuk tujuan Jogja - Kutoarjo kereta berwarna putih. Setiap hari hilir mudik para mahasiswa, pekerja, pegawai kantor berangkat pagi dan sore hari kembali pulang. Jadwal yang disediakan juga cukup banyak, 4 kali dari jogja dan 4 kali dari solo. Bahkan moda transportasi bus hampir terpinggirkan oleh kereta Pramex ini.
Memasuki stasiun Balapan, kondisi cukup lengang, jumlah orang yang hendak pergi cukup sedikit. Bahkan bisa dikatakan sepi. Beberapa pedagang menyibukkan diri dengan membersihkan lapak dagangan mereka.
Nanti bersambung lagi.......
lha ada pekerjaan menumpuk je......
Kami bergegas naik begitu kereta datang. Alangkah terkejutnya kami setelah melewati sebagian gerbong yang "kosong melompong", padahal pada gerbong lain penumpang sampai berdesakan di dalamnya, bahkan untuk sekedar berdiri. Karena dikejar tenggat waktu dan pekerjaan, kamipun nekad memasuki gerbong yang penuh sesak.
setelah sekian lama, saya berhasil menyambung tulisan saya lagi
Di dalam gerbong, seperti yang lain, tangan kami dengan lincah mencari pegangan untuk sekedar dapat berdiri tegap. Sementara tangan satunya tetap waspada menjaga barang bawaan. Maklumlah, sudah menjadi rahasia umum, banyak yang memanfaatkan kondisi ini untuk mengambil barang yang bukan haknya. Tapi untunglah kebiasaanku untuk menyimpan barang bawaan dalam tas, dan tak menyimpan uang dalam dompet, sedikit banyak mengurangi resiko barang berpindah tangan dengan halus.
Pandangan kami beralih ke belakang, batas gerbong. Dari tempat kami berdiri, terlihat samar-samar dari balik kaca kondisi gerbong sebelah yang masih sangat longgar. Tanpa sarana berpegangan, orang tidak melirik area batas gerbong, mungkin juga pertimbangan keamanan, sedikit terpeleset, bisa terjatuh atau terjepit diantara gerbong. Dengan sedikit perjuangan kami berhasil mencapai area "beresiko". "Daripada berdesakan", begitu kami pikir.
Sejenak pandangan kami layangkan ke gerbong sebelah. Terlihat beberapa anak kecil didampingi orang tua atau pengasuhnya, dapat duduk dengan lega. Tak satupun penumpang yang berdiri, kecuali yang sekedar meluruskan kaki. Walaupun gerbong "kosong", tak terlihat penumpang terlihat relaks, saling menyapa, bercanda. Satu sama lain saling diam. Saat ini banyak sekolah yang memanfaatkan wisata kereta Prambanan Ekspress, dengan menyewa beberapa gerbong untuk satu kali perjalanan pulang pergi. Peserta dikenai biaya saya, satu kali tiket. Dari kejauhan aku lihat temanku sedang berdiri di salah satu pintu gerbong. Aku angkat telepon untuk menghubunginya, berharap kami dapat tumpangan di gerbong mereka. "Hallo.... arah jam enam", kataku. Sejenak temanku bingung, hingga aku mengulangnya beberapa kali, sampai akhirnya dia menoleh. Ku lambaikan tangan ke arahnya. Beberapa saat kemudian dia menghampiriku dan membuka pintu pembatas gerbong.
"Rombongan Lifant", begitu katanya.
"Oooo....bisa ikut masuk nggak?", tanyaku.
"Masuk aja", sambil membuka lebar pintu.
Kami merasa beruntung dapat melakukan perjalanan kali ini tanpa berdesakan. Sambil duduk di dekat pintu gerbong, pembicaraan panjang lebar tentang sistem transportasi berkembang. Sesekali celetukan cabul keluar saat melihat pendamping siswa yang cukup "hot". Ah...dasar laki-laki. Seperti kucing, tak tahan melihat ikan asin lewat. Temanku juga bercerita tentang biaya untuk sekolah playgroup anaknya, salah satu peserta wisata, yang mencapai 400rb per bulan. Nilai yang membuatku terkaget-kaget, jumlah yang lebih besar dibandingkan yang dikeluarkan untuk ketiga anakku. Padahal anakku mencapai jenjang kelas 1 SD, TK kecil dan Playgroup.
Di beberapa stasiun kereta berhenti untuk menaikkan penumpang. Hal ini sekali lagi membuktikan carut marutnya sistem transportasi di Indonesia. Masinis maupun petugas di kereta tahu kalo gerbong untuk umum sudah penuh sesak, namun masih saja ticket dijual. Rasanya seperti memasukkan baju dalam tas, bukan kopor, main tekan dan asal bisa masuk semua. Pada kejadian kali ini, beberapa penumpang nekat masuk ke gerbong yang "disewa". Dua orang ibu-ibu dengan seorang gadis kecil, anaknya, dan seorang pemuda berambut gondrong yang memasang earphone sambil mendengarkan telinganya. Sesaat kemudia, beberapa perempuan panitia wisata Pramex, meminta mereka untuk keluar , kepada penumpang langsung maupun petugas polisi dan petugas KA yang mendampingi. percekcokanpun terjadi. awalnya dengan suara halus dan terkesan tenang. Namun karena "penumpang liar" itu tidak segera turun, dengan suara keras sambil menekan petugas pendamping, mereka justru terkesan bersikap kasar. Petugas pendamping menghadapi dilema. Disatu sisi mereka tidak tega melihat "penumpang liar" diusir, di sisi lain mereka menghadapi tanggung jawab yang dibebankan KaDAOP VI untuk "melindungi" gerbong dari penumpang liar. Dengan suara halus mereka meminta penumpang liar tersebut untuk turun. karena tidak ditanggapi, mereka akhirnya memilih diam.
Tak selesai disitu, panitia pendamping meminta nama, alamat dan nomor KTP penumpang yang mereka anggap liar dengan wajah bersungut. Tak lama kemudian, suasana kembali tenang, dan kereta melanjutkan perjalanan hingga stasiun Lempuyangan.
Selama perjalanan itu, pembicaraan kami masih seputar kejadian tersebut.
Ah...ternyata untuk menjadi kelompok "elit", kita justru mengeluarkan biaya lebih banyak. Tidak hanya biaya secara ekonomi, namun juga biaya sosial, etika, norma, tenaga, pikiran dan masih banyak lagi. Sungguh malangnya berada di masyarakat elit.
salam......
kill laizze faire
Senin, 19 Mei 2008
Langganan:
Postingan (Atom)
