Minggu, 16 Maret 2008

SERAGAM SMA

Kemarin malam, dalam perjalanan pulang ke kontrakan menggunakan mobil hasil meminjam bapakku, aku lihat penjual wedang ronde mendorong gerobaknya di tengah gerimis hujan. Memasuki gang demi gang, menawarkan wedangnya itu. Tidak banyak kata yang diucapkannya, layaknya penjual sate madura atau bakul sayur di Jakarte sane. Hanya sesekali dia mengetuk kentongannya. Warga perumahan di komplek rumahku sepertinya sudah hafal dengan nada dan irama kentongan si wedang ronde. Aku yakin, malam itu dia berharap, dagangannya segera habis. Lha hujan, mana udara di tempatku yang berada "agak tinggi" pastilah lebih dingin dibandingkan jantung kota Yogyakarta. Wedang ronde yang asalnya dari Wonosobo, mampu menghangatkan badan, terutama karena kandungan jahe di dalamnya. Rasanya manis, ditambah kacang tanah, kolang kaling dan gulungan terigu rebus. Kalo sedang berselera, kita bisa mencelupkan roti tawar ke dalam minuman, maka jadilah roti tawar manis dengan aroma jahe yang mblenyek dan nyemek-nyemek.
Pak ronde adalah tetangga desaku, jaraknya sekitar setengah kilometer. Pendidikan yang pernah diselesaikannya hanya sebatas sekolah dasar. Dia berasal dari keluarga kurang mampu secara ekonomi. "Nyambud gawe wae le, ngewangi bapak dadi tukang apa ngewangi mbokmu momong adikmu kae, bapak ra sanggup mbayari sekolahmu". Begitu kata ayahnya suatu saat ketika ia mengutarakan keinginan untuk melanjutkan sekolah. Sejak kecil ia memang hidup prihatin. Kadangkala ia harus membantu mencabut dan membersihkan rumput tetangga agar mendapatkan uang biaya sekolahnya.
Di seberang selatan jauh sana, berdiri sebuah warung mie jowo. Mbah Darmo nama pemiliknya. Letaknya jauh di "pedalaman" Mbantul sana. Jauh dari keramaian karena berada ditengah-tengah kampung 3 km dari pusat kota. setiap malam, berjejer berbagai macam mobil dipekarangan sebelah rumahnya yang sengaja disulap menjadi lahan parkir. Untuk mendapatkan sepiring mie, orang rela antri berjam-jam. Rasanya gurih, tapi ngak pakai penyedap buatan pabrik, begitu kata beberapa pelanggan. Usaha yang dijalaninya sekarang adalah warisan dari kedua orangtuanya yang dirintis sejak jaman belanda dulu, dan sempat melewati fase penjajahan Jepang. Kedua orangtunya mendapatkan ilmu memasak mie dari hasil bekerja dengan orang tionghoa. Saat mbah Darmo beranjak remaja, kedua orangtuanya berpesan, "Le, sesuk nek bapak ibu ora sangup masak, kowe sing neruske yo.... Rasah goleh gawean utawa usaha liyane, cukup iki wae". Amanat yang dijalaninya hingga sekarang ini.
Aku tanyakan kepada istriku, "Menurutmu, menjadi bakul ronde itu merupakan pilihan atau keterpaksaan ?".
Dengan segera dia langsung menjawab, "Ya pilihan lah !!!".
"Kenapa ?", tanyaku lagi.
"Semua orang punya jalan yang berbeda, dan setiap jalan yang diambil merupakan pilihan orang itu sendiri".
Jawaban yang singkat lugas, padat. Dalam pengertian yang lebih luas, bisa berarti banyak sekali. Aku terdiam sejenak sambil mencoba mengurai arti kalimat istriku.
"Trus, kalau mbah Darmo bakul mie jowo di mbantul sana, yang tempatnya mblusuk itu, dia menjalankan bisnisnya karena pilihan atau keterpaksaan ?" tanyaku lagi.
Sambil menarik nafas panjang di berkata, "Ya itu tadi ayah, semua orang bebas memilih, apapun pilihannya, tentu saja dengan segala konsekwensi dari pilihan tersebut".
Kelihatannya dia mulai kesal dengan pertanyaan yang menurutnya memiliki jawaban yang sama.
"Menurutku tidak persis seperti itu. Dia menjadi bakul wedang ronde mungkin karena itu satu diantara dua pilihan yang ada. Dan mbah Darmo itu mungkin juga karena kewajiban melestarikan kabudayan yang ditinggalkan nenek moyangnya, budaya masakan jowo".
Kemudian aku nyerocos panjang lebar.
"Pak ronde itu bisa jadi karena keterbatasan pendidikannya, dia tidak punya kacamata seperti kita ini, yang bisa jualan komputer, bisa beternak lele, bisa jualan alat laboratorium plus bahan kimia, bisa menjadi konsultan bidang kehutanan, bisa buka jasa tour operator dan masih banyak jenis usaha lainnya. Karena kita cukup edukatip, berpendidikan, punya uang, kenalan, wawasan, cukup punya bekal untuk membuat banyak pilihan. Lha tapi pak ronde itu, mungkin karena pendidikannya yang rendah, pilihan yang dia ciptakan dan pilihan yang hadir di kepalanya jadi sangat sedikit."
Sambil memutar stir mobil ke kanan memasuki jl lele 4, aku meneruskan kalimatku.
"Nah kalo bah Darmo itu, bisa jadi dia memilih jualan mie jowo karena itu warisan dari bapak ibunya. Dia memiliki kewajiban untuk meneruskan itu. Disamping juga mungkin karena atas kesadarannya dia merasa memiliki tanggung jawab untuk melestarikan masakan mie jowo yang sekarang mulai tergusur sama McDonald dan KFC itu. Dia merasa, kalau nggak ada yang meneruskan masakan ini, lalu siapa lagi ? Dan dia juga mendoktrin anaknya untuk berfikir dan melakukan hal yang sama. Apa itu masuk dalam kategori pilihan, menurutku tidak juga. Tapi apakah itu juga bentuk keterpaksaan ? menurutku juga kurang tepat. Jadi masih dalam kerangka pilihan yang berdasarkan keterpaksaan. Walaupun tentu bukan berarti kalao dia tidak melakukan itu maka akan mendapat dosa besar".
Tetanggaku ceritanya lain lagi. Mereka sepasang suami istri. Dulu sang suami adalah seorang guru sekolah dasar lulusan D2 sekolah guru. Sang suami setiap pagi menyalakan motor honda tuanya untuk berangkat melaksanakan kewajiban mengajar. Sementara istrinya membuka warung kecil di pinggir jalan menggunakan gerobak dorong yang buka dari pukul 10 pagi hingga pukul 7 malam. Penghasilan yang didapat sekitar 15 - 20 ribu rupiah setiap hari. Hal itu dilakukannya selama hampir 10 tahun, saat anak-anaknya masih menginjak sekolah dasar. Irama hidup di kota besar menuntut biaya yang semakin tinggi, termasuk biaya sekolah bagi kedua anaknya, laki-laki dan perempuan. Tidak hanya kebutuhan sekolah anaknya yang dia pikirkan, dia pun ingin seperti tetangga yang lain, punya motor bagus, rumah bagus dan tentu saja mobil bagus. Apalagi seiring perjalanan waktu, warung yang dirintis istrinya semakin maju. Merasa gaji menjadi guru tidak mencukupi untuk meraih segala keinginannya, dia memutuskan keluar, pensiun dini. Hasil pesangon dari dinas pendidikan dan kebudayaan, dimasukkan sebagai tambahan modal kios kecil milik istrinya. Perhitungannya, kalau modal ditambah dan masa kerja ditambah, penghasilan dari warung bisa semakin besar, bisa jadi 50 - 100 ribu per hari. Belum lagi kebebasan menentukan waktu kerja.
Warung kecil yang awalnya hanya berupa gerobak dorong berukuran 1,5 x 2,5 meter dipercantik, dicat ulang. Barang dagangan yang awalnya masih sangat terbatas, rokok, kopi, teh, susu sachet, shampo dan dagangan kecil lainnya yang hanya mengisi sepersepuluh dari luas kiosnya, kini bertambah. Kini warung itu dibukanya dari pukul 9 pagi hingga pukul4 dinihari, biasanya kalau sudah mendengar suara adzan subuh. Pagi hingga sore hari, sang istri yang menjaga. Malam hingga dinihari gantian sang suami yang menunggui warungnya. Didorongnya gerobak dari kayu dan seng itu keluar masuk kampung. Suara yang dihasilkan cukup keras, kadang-kadang mampu membangunkan penghuni rumah yang tinggal di pinggir jalan kampungku.
Semakin lama, barang dagangannya semakin banyak. Pernah beberapa waktu dia ikut menjual minuman beralkohol, tapi hanya dijalani beberapa tahun. Dengan kesadaranya dia meninggalkan dagangan itu. Takut berurusan dengan polisi dan Tuhan, katanya. Beberapa jenis makanan ringan sekarang ikut mengisi gerobaknya, sebagian besar merupakan titipan dari si pembuat langsung, konsinyasi. Dari kacang bawang, peyek, telor asin, kacang kulit, donat hingga kripik. Bahkan sekarang mobil coca cola secara rutin mengisi 4 krat minuman setiap minggunya. Kini ruangan yang tersisa dari gerobak dorongnya hanya untuk sebuah kursi plastik dan sebuah lobang kecil untuk menerima atau memberikan kembalian uang, tak ada lagi ruang tersisa. Gerobak kiosnya pun tidak lagi didorong keluar masuk kampung, tapi sudah semi permanen di trotoar jalan seberang rumah orangtuaku.
Dalam pengertianku, pak gerobak warung kelontong membuat sebuah pilihan, bukan lagi keterpaksaan. Karena dia memutuskannya berdasarkan perhitungan keuangan, juga terkait dengan latar belakang pendidikan yang dia miliki. "Alloh tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang merubahnya", begitu firman-Nya. Dalam konteks ini pak warung gerobak kelontong mencoba merubah nasib perekonomiannya dengan berganti profesi dari guru menjadi wirausahawan dari sekian banyak pilihan yang "mampir" kepadanya. Berbeda dengan pak ronde, pilihan yang datang kepadanya sangat sedikit. Masih ditambah tingkat pendidikan yang didapatkannya dan juga sistem pendidikan keluarga yang didominasi ayahnya membuat "pergerakan" otaknya semakin lambat. Sementara mbah mie jowo, pilihan dan latar belakang usahanya sangat berbeda. Awalnya dia menjalani karena itu merupakan amanat dari kedua orang tuanya (sebuah keterpaksaan), namun seiring waktu, seiring kemajuan usahanya, ia semakin mantap menjalani usahanya. Tak lupa ia pun berpesan hal yang sama kepada ketiga anaknya, 2 orang laki-laki dan seorang perempuan.
Kadang cara menjalani hidup tidak lagi antara hitam dan putih, tentang sebuah keberpihakan, tentang sebuah pilihan, tentang hitam dan putih. Namun seringkali tidak hitam, juga tidak putih, malah bisa juga campuran hitam dan putih, abu-abu. Namun apakah tidak hitam dan juga tidak putih itu menjadi sebuah pilihan atau keterpaksaan ? Saya kira juga tidak. Seringkali pilihan itu adalah sebuah keterpaksaan, karena tidak ada pilihan lain (mbah nie jowo). Atau karena pilihan itu tidak banyak (pak ronde). Namun juga keterpaksaan itu juga akhirnya menjadi sebuah pilihan (mbah mie jowo lagi). Termasuk juga pak warung gerobak kelontong, karena ia "dipaksa" untuk sejajar dengan lingkunganya maka "terpaksa" ia mengganti profesi yang mulia itu menjadi wirausahawan. Abu-abu itu kan seragam anak SMA(U) to....???

Bagaimana menurut anda .....????

Tidak ada komentar: